Aku
hanyalah seorang gadis yang lemah, tapi aku menjadi sangat kuat saat
mimpi-mimpiku menjadi penopangnya. Usiaku yang belum terlalu dewasa, 16 tahun.
Terkadang membuat aku diremehkan oleh orang-orang sekitarku. Apalagi saat
mereka menanyakan impian ku, dengan lepas mereka menertawakanku. Aku tidak
pernah marah dengan perlakuan mereka yang seperti itu dihadapanku. Menurutku,
itu hal yang sudah biasa aku alami.
Banyak
hal yang aku impikan selama ini. Mulai menjadi seorang penulis, pelukis,
penyanyi, sampai fotografer. Aku memimpikan semuanya. Satu per satu mimpi yang
kusebutkan memang tidak lepas dari seni. Semua yang aku impikan memang selalu
berkaitan dengan seni. Dilahirkan bukan dari keturunan jiwa-jiwa seni. Tapi tak
tau mengapa saat aku mengenal seni, aku sangat tertarik dan memutuskan untuk
mempelajarinya lebih dalam. Bakatku memang tak sedalam mereka-mereka yang dari
kecil telah dilatih untuk mendalami jiwa seni dan dituntut untuk berprofesi
yang berhubungan dengan kesenian.
Menulis,
aku memulainya karena sangat banyak pengalaman yang aku dapatkan selama ini.
Aku memulai menulis saat aku bertemu kau. Banyak pelajaran hidup yang aku
dapatkan hingga aku dapat menorehkannya ke dalam sebuah catatan harianku diiringi
tarian sebuah pena.
Menggambar,
aku belajar banyak darimu. Memang betul aku tak pernah memintamu untuk memberitahu atau bahkan
mengajariku bagaimana teknik menggambar yang benar. Tapi seolah aku mempunyai
teknik tersendiri saat melihat karyamu dipajang dan dipandang puluhan orang.
Karyamu mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan karya-karya pelukis lain.
Mungkin memang benar opini tentang orang-orang, “Jika kita mengerjakan sesuatu
dengan cinta, maka akan mendapat hasil yang baik.” Mungkin kau mengerjakan
karyamu dengan penuh perasaan dan cinta hingga seolah karyamu berhasil
menaburkan benih-benih cinta kepada orang-orang yang melihatnya dan berhasil membuat
mereka mencintai karyamu.
Aku
sangat termotivasi, hingga setiap malam aku menggenggam sebuah pensil runcing,
penghapus, dan sekadar pewarna untuk berlatih menjadi pelukis hebat sepertimu.
Menyanyi,
semua orang pasti bisa bernyanyi. Namun, tidak semua orang tahu bagaimana
teknik menyanyi yang benar. Kau sungguh benar-benar mengerti teknik menyanyi
yang benar. Alunan nada yang kau dendangkan pasti membuat orang yang
mendengarnya menjadi terpesona.
Sedikit
demi sedikit pengetahuan musik yang aku tahu semakin bertambah, hingga muncul
hasrat untuk dapat bernyanyi sepertimu. Aku ingin kau mengajariku bagaimana
teknik menyanyi yang benar, namun aku selalu merendah diri karena jujur aku tak
mempunyai basic suara yang senada sepertimu.
Begitupun
dengan Olahraga, kegemaranku
beolahraga semakin bertambah. Ya walaupun aku tahu bahwa olahraga yang kita
sukai memang berbeda. Namun, aku sangat senang tak ada lagi miss communication saat kau mengajakku
bercerita tentang olahraga kesukaanmu. Tak lama aku dapat mengerti dan paham
apa itu pivot, passing, dribble, dan shoot.
Dari
semua yang aku dapat dari mereka, aku semakin mengerti apa bakat yang mereka
punyai. Setidaknya mereka pernah menjadi motivasiku untuk menemukan apa bakat
yang aku punya. Namun, dari semua yang mereka ajarkan kepadaku. Ada satu yang
berbeda diantara semuanya.
Tidak
lama berselang, aku bertemu dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang
cukup banyak dalam berOrganisasi.
Tak hanya memiliki pengalaman yang banyak, namun dia juga memiliki bakat
berbicara di depan orang banyak. Mungkin bagi sebagian orang hanya mempunyai
hobi yang umum seperti menulis, menyanyi, dan menggambar. Tetapi berbeda dengan
dia, dia mempunyai hobi yang berbeda dengan kebanyakan orang yaitu
berorganisasi.
Aku
menganggapnya sebagai hal yang aneh. Hobi
kok berorganisasi. Itu kalimat pertama yang terlintas difikiranku
kepadanya. Menurutku, berorganisasi memang hal yang menyenangkan, tetapi aku
melihat dari sisi yang lain. Berorganisasi itu sebuah hal yang rumit dan
tentunya setiap harinya kita berhadapan dengan orang banyak. Belum lagi, saat
mengadakan rapat tak sedikit yang berbeda pendapat, sulit untuk menjadikan
pendapat itu menjadi satu dan menghasilkan kesimpulan yang dapat diterima oleh
semua anggota rapat.
Kesan
pertama kau berbicara di depanku, memang terlihat benih-benih pemimpin yang
tertanam dalam dirimu. Aku juga dapat melihatnya dari bagaimana cara kamu
berbicara, berjalan, dan bersosialisasi dengan orang lain. Cerdas, supel dan
tegas. Tiga kata yang aku dapat simpulkan dari dirimu saat pertama kali kita
saling bercengkrama.
Darimu,
aku menjadi tahu lebih dalam apa itu organisasi yang sebenarnya. Aku menjadi
tahu bagaimana cara bertoleransi, bekerjasama, dan bersatu dalam sebuah
perbedaan. Mungkin aku tak seahli dirimu dalam berbicara di depan orang banyak,
namun kau selalu mengatakan bahwa aku bisa melakukannya dengan modal optimisme.
Aku sungguh sangat memercayai perkataanmu.
Banyak
hal yang aku dapatkan dari dirimu, dirimu, dirimu dan dirimu yang lain. Aku
jadi tahu lebih dalam bagaimana cara menulis, menggambar, menyanyi,
berolahraga, dan satu lagi yaitu berorganisasi. Terima kasih atas semuanya, setidaknya
kalian pernah menjadi secoret pelangi yang mewarnai setitik bagian dalam
kehidupanku.