Sabtu, 08 Agustus 2015

27 Maret

27 Maret. Tepat satu tahun lalu kita masih bersama. Namun kini berbeda, kau telah bersama yang lain begitupun denganku. Kau telah memilih perempuanmu yang menurutmu terbaik untukmu begitupun dengan diriku. Aku telah memilih seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku apa adanya. Tidak seperti kau yang mengagumi diriku hanya karena aku memiliki wajah serupa dengan perempuanmu yang dahulu. Sudahlah, aku kira waktu 1 tahun cukup untuk melenyapkan secuil kenangan yang kita ukir bersama. Tidak ada yang perlu disesali dan tidak ada yang perlu disalahkan dengan semua kejadian ini. Yang pasti aku mengambil hikmah dari semua peristiwa ini, ternyata perasaan tak bisa dipaksakan. Perasaan tak bisa diganggu gugat, semuanya natural, alami, dan berjalan apa adanya.
Aku harap semuanya akan berjalan baik-baik saja untuk kedepannya, dan semoga ini pilihan terbaik untuk kita. Tak perlu merasa bersalah dengan semuanya. Itu hanya rencana Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa cinta tak selalu datang hanya karena ketertarikan sesaat. Tepat tanggal 27 Maret ini juga, hari yang cukup menyenangkan bagiku. Telah 4 bulan lamanya aku bersamanya. Entah mengapa semuanya terjadi diwaktu yang bersamaan, namun bedanya dengan yang dahulu ialah dengan siapa sekarang aku bertahan.

Aku harap dia lebih baik daripada kau. Aku sangat percaya itu. Aku harap dia akan selalu bersedia menyediakan pundak saat aku lelah dan tetap menjadi tempat aku bercerita seperti yang kau lakukan dahulu kepadaku. Terimakasih kenangan. Terimakasih Bali. Terimakasih Maret. Bye bye dengan hidupmu yang baru dan lebih berwarnaaa….

Arti Mimpi

Arti mimpi
Seorang gadis belia yang tak tau arti mimpi, namun ia menaruh harapan yang sangat pada mimpi-mimpinya. Dari jauh maupun dekat mata menangkapnya, tak nampak mahkota yang biasanya perempuan lain andalkan sebagai titik kecantikan. Ia merasa bangga dengan apa yang dikenakannya saat ini. Jilbab putih bersih yang menjulur ke bawah menutupi dadanya, seolah menambah kecantikan internalnya. Jika perempuan lain dapat menggeraikan rambut dan mengibaskannya, ia hanya dapat merapatkan jilbabnya yang terbang saat angin menerpanya.
            Kain lebar yang menutupi auratnya membuat ia merasa terlindungi dari godaan syahwat yang menghampirinya. Tak seorangpun dapat dengan mudah menyentuh tangannya, bahkan saat berjabat tanganpun ia hanya menyatukan kedua telapak tangan lalu menengadahkannya di depan dada serta menundukkan kepala pertanda hormat. Keelokan dan keanggunannya tak dapat mengalahkan cintanya kepada sepak bola. Ia mencintainya dari kecil. Saat sang kakak laki-laki yang selalu mengajaknya bermain bola, ia tak pernah menolak ajakannya. Setelah beranjak remaja, ia mulai mengerti cinta. Seperti layaknya gadis remaja lainnya yang seumuran, ia memang merasakan cinta. Lebih tepatnya tertarik dengan lawan jenis. Namun, rasa ketertarikannya tak mengalahkan pesan dari sang bapak tercinta.
“Ndo… kewajibanmu sekarang adalah belajar, biar sukses. Toh kalo sudah sukses jodoh akan menghampirimu sendiri. Ingat ndo, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik…”
Begitulah nasihat sang bapak kepada putri tercintanya. Kekhwatiran seorang bapak memang selalu muncul saat seorang anak perempuan tumbuh menjadi gadis belia dan beranjak dewasa. Ia juga sangat menaruh harapan pada mimpi-mimpinya. Mendirikan taman bacaan untuk anak-anak adalah salah satunya. Sifat keibuannya terpancar saat ia berinteraksi dengan para anak-anak kecil.
“Sangat senang saat harus menatap senyuman kecil mereka yang tanpa dosa. Candaan kecil yang menunjukkan ketidakpahaman mereka tentang tujuan mereka dilahirkan di dunia, kelak mereka akan menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.” Begitu sekilas yang terbesit di otaknya.
Ia yakin suatu saat mimpinya akan tercapai. Menjadi penulis terkenal, mempunyai taman bacaan serta tak lupa membahagiakan orang tua. Serta mimpi-mimpinya yang lain yang ia telah tuliskan pada secarik kertas yang berjudul 100 impian. Semenjak menulis impian-impian tersebut, ia semakin optimis untuk menggapai mimpi-mimpinya satu persatu. Seiring berjalannya waktu, Ia juga akan mengerti apa arti mimpi-mimpi yang berusaha ia gapai.




Belajar dari Dirimu...

Aku hanyalah seorang gadis yang lemah, tapi aku menjadi sangat kuat saat mimpi-mimpiku menjadi penopangnya. Usiaku yang belum terlalu dewasa, 16 tahun. Terkadang membuat aku diremehkan oleh orang-orang sekitarku. Apalagi saat mereka menanyakan impian ku, dengan lepas mereka menertawakanku. Aku tidak pernah marah dengan perlakuan mereka yang seperti itu dihadapanku. Menurutku, itu hal yang sudah biasa aku alami.
Banyak hal yang aku impikan selama ini. Mulai menjadi seorang penulis, pelukis, penyanyi, sampai fotografer. Aku memimpikan semuanya. Satu per satu mimpi yang kusebutkan memang tidak lepas dari seni. Semua yang aku impikan memang selalu berkaitan dengan seni. Dilahirkan bukan dari keturunan jiwa-jiwa seni. Tapi tak tau mengapa saat aku mengenal seni, aku sangat tertarik dan memutuskan untuk mempelajarinya lebih dalam. Bakatku memang tak sedalam mereka-mereka yang dari kecil telah dilatih untuk mendalami jiwa seni dan dituntut untuk berprofesi yang berhubungan dengan kesenian.
Menulis, aku memulainya karena sangat banyak pengalaman yang aku dapatkan selama ini. Aku memulai menulis saat aku bertemu kau. Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan hingga aku dapat menorehkannya ke dalam sebuah catatan harianku diiringi tarian sebuah pena.
Menggambar, aku belajar banyak darimu. Memang betul aku tak pernah  memintamu untuk memberitahu atau bahkan mengajariku bagaimana teknik menggambar yang benar. Tapi seolah aku mempunyai teknik tersendiri saat melihat karyamu dipajang dan dipandang puluhan orang. Karyamu mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan karya-karya pelukis lain. Mungkin memang benar opini tentang orang-orang, “Jika kita mengerjakan sesuatu dengan cinta, maka akan mendapat hasil yang baik.” Mungkin kau mengerjakan karyamu dengan penuh perasaan dan cinta hingga seolah karyamu berhasil menaburkan benih-benih cinta kepada orang-orang yang melihatnya dan berhasil membuat mereka mencintai karyamu.
Aku sangat termotivasi, hingga setiap malam aku menggenggam sebuah pensil runcing, penghapus, dan sekadar pewarna untuk berlatih menjadi pelukis hebat sepertimu.
Menyanyi, semua orang pasti bisa bernyanyi. Namun, tidak semua orang tahu bagaimana teknik menyanyi yang benar. Kau sungguh benar-benar mengerti teknik menyanyi yang benar. Alunan nada yang kau dendangkan pasti membuat orang yang mendengarnya menjadi terpesona.
Sedikit demi sedikit pengetahuan musik yang aku tahu semakin bertambah, hingga muncul hasrat untuk dapat bernyanyi sepertimu. Aku ingin kau mengajariku bagaimana teknik menyanyi yang benar, namun aku selalu merendah diri karena jujur aku tak mempunyai basic suara yang senada sepertimu.
Begitupun dengan Olahraga, kegemaranku beolahraga semakin bertambah. Ya walaupun aku tahu bahwa olahraga yang kita sukai memang berbeda. Namun, aku sangat senang tak ada lagi miss communication saat kau mengajakku bercerita tentang olahraga kesukaanmu. Tak lama aku dapat mengerti dan paham apa itu pivot, passing, dribble, dan shoot.
Dari semua yang aku dapat dari mereka, aku semakin mengerti apa bakat yang mereka punyai. Setidaknya mereka pernah menjadi motivasiku untuk menemukan apa bakat yang aku punya. Namun, dari semua yang mereka ajarkan kepadaku. Ada satu yang berbeda diantara semuanya.
Tidak lama berselang, aku bertemu dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam berOrganisasi. Tak hanya memiliki pengalaman yang banyak, namun dia juga memiliki bakat berbicara di depan orang banyak. Mungkin bagi sebagian orang hanya mempunyai hobi yang umum seperti menulis, menyanyi, dan menggambar. Tetapi berbeda dengan dia, dia mempunyai hobi yang berbeda dengan kebanyakan orang yaitu berorganisasi.
Aku menganggapnya sebagai hal yang aneh. Hobi kok berorganisasi. Itu kalimat pertama yang terlintas difikiranku kepadanya. Menurutku, berorganisasi memang hal yang menyenangkan, tetapi aku melihat dari sisi yang lain. Berorganisasi itu sebuah hal yang rumit dan tentunya setiap harinya kita berhadapan dengan orang banyak. Belum lagi, saat mengadakan rapat tak sedikit yang berbeda pendapat, sulit untuk menjadikan pendapat itu menjadi satu dan menghasilkan kesimpulan yang dapat diterima oleh semua anggota rapat.
Kesan pertama kau berbicara di depanku, memang terlihat benih-benih pemimpin yang tertanam dalam dirimu. Aku juga dapat melihatnya dari bagaimana cara kamu berbicara, berjalan, dan bersosialisasi dengan orang lain. Cerdas, supel dan tegas. Tiga kata yang aku dapat simpulkan dari dirimu saat pertama kali kita saling bercengkrama.
Darimu, aku menjadi tahu lebih dalam apa itu organisasi yang sebenarnya. Aku menjadi tahu bagaimana cara bertoleransi, bekerjasama, dan bersatu dalam sebuah perbedaan. Mungkin aku tak seahli dirimu dalam berbicara di depan orang banyak, namun kau selalu mengatakan bahwa aku bisa melakukannya dengan modal optimisme. Aku sungguh sangat memercayai perkataanmu.
Banyak hal yang aku dapatkan dari dirimu, dirimu, dirimu dan dirimu yang lain. Aku jadi tahu lebih dalam bagaimana cara menulis, menggambar, menyanyi, berolahraga, dan satu lagi yaitu berorganisasi. Terima kasih atas semuanya, setidaknya kalian pernah menjadi secoret pelangi yang mewarnai setitik bagian dalam kehidupanku.






Tak Sesempurna Yang Lain

Memang benar aku tak sesempurna dan secantik wanita yang lain, aku lebih menyukai diriku yang apa adanya.
Aku bukan wanita yang dapat berlenggak lenggok diatas catwalk, aku bukan wanita yang dapat memoles wajahku dengan makeup agar terlihat cantik, aku bukan wanita yang dapat memakai hells  dengan benar, aku hanyalah seorang wanita yang dapat mencurahkan perasaanku ke dalam sebuah diary harian atau memainkan jari-jariku diatas keyboard untuk membuat hatiku lebih tenang.
Aku bukan seperti mereka yang selalu mengalungkan tas bermerk berisi gadget, makeup dan peralatan kosmetik lainnya. Aku lebih suka mengalungkan sebuah camera, dimana aku dapat mengambil foto sesuatu yang dapat menarik perhatianku saat melihat lingkungan sekitar.
Sehingga, aku lebih menyukai travelling. Aku lebih suka melihat alam yang indah ciptaan Tuhan. Tidak seperti mereka yang lebih suka menjelajahi mall di setiap sudut kota. Kemudian membuka tas bermerk yang mereka kalungkan di pundak mereka dan mengeluarkan sejumlah uang ratusan untuk membayar beberapa baju yang mereka beli.
Lalu, dengan mengetahui semua bahwa aku seperti ini. Apakah kau akan tetap menerimaku apa adanya? Apakah kau rela berfoto dengan perempuan bermuka musam yang mempunyai garis hitam dibawah matanya? Apakah kau tidak memilih berfoto bersama dengan perempuan-perempuan lain yang memakai eye shadow di matanya, memakai lipstick di bibirnya dan memoles pipi mereka dengan brush on? Apakah kau tidak malu saat berjalan bersama dengan perempuan berbaju kucel dan berpenampilan katro ini?
Aku harap semua pertanyaanku akan kau jawab dengan kata ‘TIDAK’. Tapi aku tetap tak tahu bagaimanakah perasaanmu padaku. Aku kira tidak semua laki-laki yang memanggil sebutan ‘sayang’ kepada seorang perempuan bukan berarti ia juga memiliki perasaan yang dalam, sedalam kata ‘sayang’ itu.
Aku masih tetap seperti yang dahulu. Aku bukan seseorang yang mempunyai passion dalam bidang modelling. Aku hanya penulis dan fotografer amatiran seperti yang kau lihat saat ini. Jadi, aku sangat memohon padamu agar kau tidak mengaturku dalam masalah penampilan. Aku sangat sangat mengerti laki-laki mana yang tak bangga memiliki wanita yang cantik dan berpenampilan oke. Aku kira semua lelaki pasti mendambakan seorang wanita yang seperti itu. Tapi inilah aku. Seorang perempuan yang memiliki wajah musam dan garis hitam dibawah matanya karena terlalu sering bermain-main dengan block note miliknya di setiap malam.