Senin, 30 Juni 2014

Maret

Ah, Maret.
Bulan kebahagiaan. Kau. Iya kau. Aku rindu sosokmu yang dulu. Sosokmu 3 bulan yang lalu, iya bulan Maret. Sosokmu yang tulus dan perhatian. Ah, sudahlah jangan mengingat hal itu. Yang ada dadaku semakin sesak karena tak dapat menahan air mata yang terus ingin jatuh. Kau berbeda dari yang dulu. Aku rindu sosokmu yang dulu sungguh. Aku seperti kehilangan sosokmu yang dulu. Kemana kau yang dulu? Sungguh dari dalam hati, aku sangat rindu. Aku tak tau kemana perginya sosokmu yang dahulu. Tak seperti sekarang, kau dingin dan tak seperhatian dulu. Kau selalu menampakkan wajahmu yang acuh tak acuh di depanku. Aku berusaha memalingkan muka dan tak menatapmu, aku merasakan sakit yang amat sungguh. Itu bukan kau! bukan kau yang dulu! Tapi apa daya, aku mencoba menerima semuanya, mengikhlaskan kepergian sosok yang kurindukan dulu meski itu sangat sulit. Aku mencoba tegar menghadapi semuanya. Karena aku yakin sosokmu yang dulu akan hadir kembali dalam kehidupanku di waktu yang tepat. 

Kamis, 26 Juni 2014

Cobalah mengerti


Aku masih sering menatapmu diam-diam;menatap tanpa sepengetahuanmu. Persis seperti dulu. Tapi bedanya sekarang kedua bola mataku hanya terhenti di titih dimana aku berada pada posisi lemah, aku tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Dulu, saat ku tak sengaja menatapmu, kau dengan sesegera mungkin memalingkan arah matamu kepadaku, seolah ada kontak batin diantara kita. Namun sekarang berbeda, kau terlihat sibuk dengan sebuah ponsel yang ada di genggaman tangamu. Ponsel itu terus kau genggam erat seperti ada sesuatu yang tak ingin kau lepaskan. Jari-jarimu juga terlihat tampak bermain diatas keypad. Sesungguhnya aku sudah mengetahui semuanya, kau kembali menghampirinya saat (ia) datang dan merebut hatimu kembali. Saat aku sedang berada di titik kecintaannya padamu. Aku hanya terdiam, membisu dan bertahan. Aku tak mengharap semuanya kembali. Tapi, aku hanya meminta kau dapat sesegera mungkin memalingkan pandanganmu kepadaku sekali ini saja agar kau lekas tahu bagaimana perasaanku saat ini. Cobalah mengerti.

Rabu, 18 Juni 2014

Empat Musim Perjalananku :"


-Deena-

Jangan pernah memaksaku untuk tetap tinggal jika pada akhirnya kau yang akan pergi terlebih dahulu. Aku seperti hidup dalam ketidakadilan. Aku terjebak ketidakadilan. Dimana seorang pemain figuran  hanya dibutuhkan saat seorang pemain utama sedang menghilang sementara. Persis sepertiku. Aku bagaikan tokoh figuran yang kamu mainkan sementara. Yang kau sayangi, cintai, kasihi namun hanya sementara. Dan akan berakhir saat perempuanmu datang dan merebut hatimu kembali. Sebagai seorang perempuan yang lemah aku hanya dapat diam dan bertahan. Menunggu keajaiban datang sampai pada akhirnya kau kembali ke dalam pelukanku lagi. Hingga pergantian musim datang, saat sungai mulai mengering dan resapan air tak lagi tampak, saat air hujan yang tak dapat ditawar datangnya, kemudian daun berguguran dari pohonnya hingga bunga-bunga bermekaran bersemi kembali menampakkan dirinya. Empat musim perjalananku. Aku belum menemukan sosok yang persis sepertimu. Sosok yang bisa membuat aku tenang hingga tersenyum tanpa alasan. Hanya kau. Perjalanan panjang dan waktu yang lama menggulung empat musim ini bukanlah waktu yang mudah untuk aku bertahan. Bertahan dan memperjuangkan seseorang yang sama sekali tak mau dipertahankan dan diperjuangkan. Mungkin orang lain akan menganggapku bodoh. Biarlah. Biarkan mereka mengucilkanku, mengejekku, ataupun memakiku. Sungguh mereka tak tau dan tak merasakan bagaimana rasanya  di posisiku saat ini. Empat musim yang sangat berkesan. Musim panas, musim hujan, musim gugur, dan musim semi. Semuanya sama. Aku kehilangan dan tak menemukan kembali sosokmu yang dahulu.