Judul : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang
: Tere-Liye
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua belas, November 2013
Jumlah halaman :
264 halaman
DAUN YANG JATUH
TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
“Aku
memang tak pernah mengakui mempunyai perasaain itu kepadamu. Karena aku takut
jawabannya tidak. Aku takut pengakuan itu membuatku terluka. Bagaimana mungkin
gadis kecil berkepang dua sepertiku mencintaimu. Aku memutuskan untuk bersabar
menunggu…. Bersabar menunggu agar aku cantik
dan dewasa seperti yang pernah kaukatakan. Bersabar menunggu enam tahun
kemudian.
Bayangkan, bagaimana proses
perjalanan cinta yang penuh lika-liku dengan perbedaan usia yang cukup jauh, persis seperti yang
dialami oleh gadis cilik pintar dan cerdas. Tania, gadis yang harus merasakan pahitnya kehidupan
di kota besar hingga bertemu dengan malaikat hidupnya yang selama ini tak
pernah ia bayangkan. Benih-benih cinta muncul dari seorang gadis yang baru
menginjak umur 11 tahun. Bahkan ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri,
mengapa ia bisa jatuh hati dengan seorang pria berumur 24 tahun?
Tokoh rekaan Tere Liye ini berhasil
menghipnotis para pembaca setianya. Cetakan buku yang kedua belas berjudul Daun
Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin sukses merebut hati pembacanya. Filosofi
dari judul yang terpaparkan sebagai wujud bahwa seorang Tere Liye mampu
mengekspresikan kehidupan dalam percintaan beda usia yang sekarang sedang marak
dengan tulisannya. Cinta dengan perbedaan usia sekarang ini, bukanlah dipandang
sebagai hal yang tabu lagi. Banyak pasangan yang memilih untuk mengakrabkan
cinta dengan pasangan mereka melalui pernikahan beda usia. Bahkan yang sangat
jauh.
Fenomena pernikahan beda usia bagi sebagian
masyarakat saat ini masih dirasa sebagai hal ganjil. Pasalnya, mereka cenderung
berpikir dengan pernikahan beda usia yang sangat jauh akan berpengaruh pada
keturunan maupun anak-cucu mereka. Persis seperti yang dialami oleh tokoh
rekaan Tere Liye dalam novel ini, Tania dan Danar. Usia yang terpantau jauh
membuat mereka enggan untuk mengatakan bahwa mereka memiliki perasaan yang
sama.
Cinta terkadang memang tak mengenal
usia. Saat ini pun banyak pasangan yang menikah dengan usia yang terpaut cukup
jauh. Namun, perbedaan usia bukanlah sesuatu yang aib, bila pernikahan
berdasarkan cinta dan merasakan kenyamanan satu sama lain. Perbedaan usia pada
sebuah hubungan akan membawa dampak yang berbeda-beda. Di dalam pandangan
Islam, tidak ada batasan usia dan ketentuan khusus mengenai usia dalam
pernikahan. Hal ini lebih banyak diserahkan kepada adat istiadat yang berlaku
dia daerah tersebut.
Di
beberapa adat , ada orang tua yang melarang anak gadisnya untuk tidak menikah
dengan pria yang punya perbedaan usia yang cukup jauh. Perbedaan umur yang terlalu jauh juga dikhawatirkan
mengakibatkan perbedaan visi. Bila
berkeca ke belakang, pernikahan beda usia cukup banyak dilakukan di masyarakat
sejak zaman dahulu. Bahkan beberapa wacana menyebutkan adanya perrnikahan
antara sang kakek dengan cucunya
Seperti
fenomena pernikahan beda usia yang terjadi di Jepang. Gadis berusia 20 tahun
akan menikah dengan kakek yang berusia hampir 60 tahun. Bahkan, ayah si gadis
Lin Jing-en sudah meminta pacarnya Li –Kuncheng untuk segera melamar anak
gasinya. Kemudian, ayahnya meminta hubungan keduanya segera dipersatukan dengan
sebuah pernikahan.
Lain lagi dengan hukum adat
pernikahan yang diterapkan oleh masyarakat Jawa, sebuah adat dan kepercayaan
bahwa pantang menikahkan anak pertama atau mbarep dengan anak pertama juga,
begitupun sebaliknya anak terakhir atau bungsu tidak boleh menikah dengan anak
bungsu juga. Adat ini telah mendarah daging bagi banyak orang. Dan seperti
sudah menjadi keharusan untuk dilaksanakan dan diterapkan pada keluarganya,
jika tidak maka mereka yang percaya meyakini jika dilanggar akan terjadi
bencana, tidak bahagia, dan hal jelek lainnya. Tentu adanya hukum adat ini
tidak asal-asalan dibuat. Mereka juga mempunyai alasan-alasan tertentu mengapa
ada sebuah pantangan tersebut.
Menurut
psikolog Ine Nadriyani Aditya, pernikahan dengan pasangan beda usia, apalagi
jika satu pihak masih remaja, sebaiknya tidak dilakukan. Ine mengatakan, usia
remaja adalah peralihan menuju fase dewasa sehingga secara psikologis mereka
belum stabil, keputusan menikah adalah keputusan besae sehingga ditintut
pemikiran mendalam dan bijak. Namun menurut Ine, kondisi remaja sekarang sudah
berbeda. Remaja saat ini memiliki tuntutan, impian, dan harapan yang sangat
banyak.
Pernyataan Ine ternyata sangat bertolak belakang
dengan hukum adat. hukum adat tidak menentukan batasan umur tertentu bagi orang
untuk melaksanakan pernikahan, Bahkan hukum adat membolehkan pernikahan anak-anak
yang dilaksanakan ketika anak masih berusia kanak-kanak. Hal ini dapat terjadi
karena di dalam hukum adat perkawinan bukan saja merupakan persatuan kedua
mempelai tetapi juga merupakan persatuan dua buah keluarga kerabat.
Novel ini dibungkus dengan penuturan
kata yang sangat apik. Tere Liye memang mempunyai jiwa yang dapat membuat
pembacanya tertarik dan memiliki hasrat untuk terus menikmati karyanya. Berbeda
dengan karya Tere Liye yang lain, novel ini meskipun sederhana tapi kita bisa
merasakan keistimewaan lewat penuturan kata yang apa adanya. Walaupun ceritanya
sedikit klise, namun tidak mengurangi porsi pembaca untuk segera menuntaskan
bagian akhir cerita.
Aku
membuang ingus. Tersedan.
“Aku tak pernah berani
mengatakannya…. Bagaimana mungkin aku mencintai malaikat kami. Aku berpikir aku tak akan pernah layak
mencintaimu. Bersabar menunggu hingga aku cukup layak menyentuh perasaanmu.
Sayangnya saat aku merasa layak, kau memutuskan untuk menikah dengan gadis
lain. Kau ‘mengatakan’ semua perasaanmu
dengan menikahinya.
Konflik yang dipaparkan membuat kita
dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut. Cinta tidak hanya tumbuh dan
dirasakan, namun cinta harus dikomunikasikan.
Komunikasi memang sangat penting bagi setiap orang di dunia ini, dengan
berkomunikasi kita dapat menyampaikan ide, gagasan, maupun persepsi kepada
orang lain. Begitu pula dengan cinta. Untuk apa menumbuhkan rasa, merawat cinta
namun tidak mengkomunikasikannya selama bertahun-tahun? Bagian inti konflik
inilah yang membuat pembaca termasuk saya geregetan
dengan ending cerita yang kurang
memuaskan.
“Katakanlah…
apa kau mencintaiku?” aku berbisik lirih. Berdiri. Menatap mata redupnya. Jarak
kami hanya selangkah.
“Katakanlah…
walau itu sama sekali tidak berarti apa-apa lagi.”
Kutipan percakapan tersebut semakin
menunjukkan relasi dengan judulnya. Terutama filosofi “Daun Yang Jatuh Tak
Pernah Membenci Angin”, apapun yang kita alami, jangan pernah menyalahkan
keadaan. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan
semuanya.”
“Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang
indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus
memahami, pemahaman yang tulus, Tak peduli lewar apa penerimaan, pengertian,
pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan
menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angina merengkuhnya,
membawa pergi entah kemana.
