Senin, 28 Desember 2015

Contoh Feature (Artikel Populer)


Sepercik Kehidupan yang Hilang
Hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang serta sengatan terik mentari yang dapat membakar kulit semakin menunjukkan suasana di Jatinangor. Di tengah riuh ramai orang bercengkarama, sejauh mata menangkap terlihat seorang wanita paruh baya dengan sebuah daster lusuh yang membalut tubuhnya. Ia sibuk mengaitkan benang pada sehelai kain yang berada di genggaman kedua tangannya. Nampak wajahnya yang sumringah menatap seorang anak kecil yang sedari tadi bermain-main di hadapannya. Raut wajah gembira terpancar walaupun mereka hanya dinanungi oleh sebuah rumah beratapkan genting yang bocor dengan ubin yang retak.
Wanita kelahiran  40 tahun silam itu bernama lengkap Sudarti, merupakan ibu dari dua orang anak. Selama dua tahun silam, ia kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Warga pemukiman di Desa Sayang RT 03 RW 02 Kecamatan Jatinangor memang memiliki masalah krisis air bersih. Mayoritas warga memperoleh sumber air dari pabrik dekat pemukiman mereka. Pabrik yang dimaksud adalah Pabrik Laundry. Mereka mendapatkan sumber air gratis dari pabrik tersebut sebagai wujud pertanggungjawaban pihak pabrik karena air yang ada di sungai tercemar dengan adanya polusi.
Warga RT 03 RW 02 mengeluhkan keadaan mereka. Seperti yang dilansir oleh Sudarti “Memang di daerah ini susah untuk dapat air bersih, apalagi kami masyarakat kecil. Mau bagaimana lagi?” ucapnya dengan mimik muka lesu. Warga sangat resah karena beberapa tahun terakhir sumber air gratis yang seharusnya digunakan oleh warga Desa Sayang ternyata diambil alih oleh warga desa sebelah. Begitupun saluran air yang disalurkan ke rumah-rumah warga desa sebelah. Sehingga itu menuai protes warga dan tak jarang terjadi permasalahan antar desa.  Sudarti juga menambahkan bahwa seringkali beberapa warga protes masalah krisis air tersebut. Namun, aparat desa tidak segera bertindak secara cepat mengatasi hal tersebut. “Kami sudah protes ke kepala desa. Namun tetap tidak ada perubahan.” ujarnya dengan nada kesal.
Tidak jarang para warga harus bersabar menunggu air keluar dari saluran-saluran yang menghubungkan antar satu rumah dengan rumah yang lain. Biasanya, air keluar menurut jadwal yang telah ditetapkan. Satu hari mereka dapat menampung air sebanyak tiga kali. Itupun tetap harus menghemat untuk keperluan mandi, mencuci baju dan minum. Ini masih dirasa normal daripada kejadian tahun lalu saat air tak setetespun keluar selama tiga hari dari saluran air mereka. Terpaksa mereka harus meminta ataupun membeli air bersih dari desa sebelah.
Ada beberapa warga yang memperoleh sumber air dari PDAM. Namun, hanya orang-orang tertentu dengan penghasilan yang lebih. Sementara itu, sebagian dari mereka hidup dalam perekonomian yang terbatas. Mayoritas mereka bekerja sebagai buruh pabrik. Tentu dengan penghasilan yang tidak cukup banyak dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih keras  menjadi salah satu faktor mengapa mereka tidak memanfaatkan PDAM sebagai sumber air bersih.
Tidak jauh dari tempat tinggal Sudarti, terlihat sebuah rumah bertingkat dengan desain rumah minimalis dengan pagar tralis besi. Berpoles warna cat biru cerah menyilaukan mata. Pintu terbuka dan mata dapat menangkap jelas kursi tamu yang ada di dalam rumah itu. Ibu-ibu yang sedari tadi membicarakan topik hangat di rumah tersebut tak luput dari pandangan mata. Kondisi ini jauh berbeda dari keadaan dan situasi di rumah Sudarti. Padahal masih dalam lingkup satu Rukun Tetangga (RT).

Menurut Sri, warga lain di desa tersebut. Ia menyatakan bahwa ia tidak mengalami krisis air sedikitpun. “Saya sama sekali tidak pernah mengalami krisis air selama tinggal di desa ini. Saya memanfaatkan fasilitas PDAM.” ucapnya dengan nada santai. Tampak perbedaan pernyataan antara Sri dengan Sudarti. Ketimpangan ini memang benar adanya dan diakui oleh Sudarti. “Minimnya komunikasi antar warga juga menjadi sebab kurangnya kerukunan di desa ini. Saya harap, mereka juga membantu kami yang sedang kesulitan air. Aparat desa juga harus turun tangan menangani masalah ini.” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar