Sepercik
Kehidupan yang Hilang
Hiruk
pikuk kendaraan yang berlalu lalang serta sengatan terik mentari yang dapat
membakar kulit semakin menunjukkan suasana di Jatinangor. Di tengah riuh ramai
orang bercengkarama, sejauh mata menangkap terlihat seorang wanita paruh baya
dengan sebuah daster lusuh yang membalut tubuhnya. Ia sibuk mengaitkan benang
pada sehelai kain yang berada di genggaman kedua tangannya. Nampak wajahnya
yang sumringah menatap seorang anak kecil yang sedari tadi bermain-main di
hadapannya. Raut wajah gembira terpancar walaupun mereka hanya dinanungi oleh
sebuah rumah beratapkan genting yang bocor dengan ubin yang retak.
Wanita
kelahiran 40 tahun silam itu bernama
lengkap Sudarti, merupakan ibu dari dua orang anak. Selama dua tahun silam, ia
kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Warga pemukiman di Desa Sayang RT 03 RW 02 Kecamatan Jatinangor memang memiliki
masalah krisis air bersih. Mayoritas warga memperoleh sumber air dari pabrik
dekat pemukiman mereka. Pabrik yang dimaksud adalah Pabrik Laundry. Mereka
mendapatkan sumber air gratis dari pabrik tersebut sebagai wujud
pertanggungjawaban pihak pabrik karena air yang ada di sungai tercemar dengan
adanya polusi.
Warga
RT 03 RW 02 mengeluhkan keadaan mereka. Seperti yang dilansir oleh Sudarti “Memang
di daerah ini susah untuk dapat air bersih, apalagi kami masyarakat kecil. Mau
bagaimana lagi?” ucapnya dengan mimik muka lesu. Warga sangat resah karena beberapa tahun terakhir sumber air gratis
yang seharusnya digunakan oleh warga Desa Sayang ternyata diambil alih oleh
warga desa sebelah. Begitupun saluran air yang disalurkan ke rumah-rumah warga
desa sebelah. Sehingga itu menuai protes warga dan tak jarang terjadi permasalahan
antar desa. Sudarti
juga menambahkan bahwa seringkali beberapa warga protes masalah krisis air tersebut.
Namun, aparat desa tidak segera bertindak secara cepat mengatasi hal tersebut.
“Kami sudah protes ke kepala desa. Namun tetap tidak ada perubahan.” ujarnya
dengan nada kesal.
Tidak
jarang para warga harus bersabar menunggu air keluar dari saluran-saluran yang
menghubungkan antar satu rumah dengan rumah yang lain. Biasanya, air keluar
menurut jadwal yang telah ditetapkan. Satu hari mereka dapat menampung air
sebanyak tiga kali. Itupun tetap harus menghemat untuk keperluan mandi, mencuci
baju dan minum. Ini masih dirasa normal daripada kejadian tahun lalu saat air
tak setetespun keluar selama tiga hari dari saluran air mereka. Terpaksa mereka
harus meminta ataupun membeli air bersih dari desa sebelah.
Ada beberapa warga yang memperoleh sumber air
dari PDAM. Namun, hanya orang-orang tertentu dengan penghasilan yang lebih.
Sementara itu, sebagian dari mereka hidup dalam perekonomian yang terbatas. Mayoritas
mereka bekerja sebagai buruh pabrik. Tentu dengan penghasilan yang tidak cukup
banyak dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih keras menjadi salah satu faktor mengapa mereka tidak
memanfaatkan PDAM sebagai sumber air bersih.
Tidak jauh dari tempat tinggal Sudarti,
terlihat sebuah rumah bertingkat dengan desain rumah minimalis dengan pagar
tralis besi. Berpoles warna cat biru cerah menyilaukan mata. Pintu terbuka dan
mata dapat menangkap jelas kursi tamu yang ada di dalam rumah itu. Ibu-ibu yang
sedari tadi membicarakan topik hangat di rumah tersebut tak luput dari
pandangan mata. Kondisi ini jauh berbeda dari keadaan dan situasi di rumah
Sudarti. Padahal masih dalam lingkup satu Rukun Tetangga (RT).
Menurut
Sri, warga lain di desa tersebut. Ia menyatakan bahwa ia tidak mengalami krisis
air sedikitpun. “Saya sama sekali tidak pernah mengalami krisis air selama
tinggal di desa ini. Saya memanfaatkan fasilitas PDAM.” ucapnya dengan nada
santai. Tampak perbedaan pernyataan antara Sri dengan Sudarti. Ketimpangan ini
memang benar adanya dan diakui oleh Sudarti. “Minimnya komunikasi antar warga
juga menjadi sebab kurangnya kerukunan di desa ini. Saya harap, mereka juga
membantu kami yang sedang kesulitan air. Aparat desa juga harus turun tangan
menangani masalah ini.” ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar