Senin, 28 Desember 2015

Contoh Resensi



                                     Judul                           : Daun yang Jatuh Tak Pernah  Membenci   Angin
                                     Pengarang                  : Tere-Liye
                                     Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
                                      Cetakan                      : Kedua belas, November 2013
                                     Jumlah halaman        : 264 halaman

DAUN YANG JATUH
                                                 TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
“Aku memang tak pernah mengakui mempunyai perasaain itu kepadamu. Karena aku takut jawabannya tidak. Aku takut pengakuan itu membuatku terluka. Bagaimana mungkin gadis kecil berkepang dua sepertiku mencintaimu. Aku memutuskan untuk bersabar menunggu…. Bersabar menunggu agar aku cantik dan dewasa seperti yang pernah kaukatakan. Bersabar menunggu enam tahun kemudian.
            Bayangkan, bagaimana proses perjalanan cinta yang penuh lika-liku dengan perbedaan  usia yang cukup jauh, persis seperti yang dialami oleh gadis cilik pintar dan cerdas. Tania,  gadis yang harus merasakan pahitnya kehidupan di kota besar hingga bertemu dengan malaikat hidupnya yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Benih-benih cinta muncul dari seorang gadis yang baru menginjak umur 11 tahun. Bahkan ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri, mengapa ia bisa jatuh hati dengan seorang pria berumur 24 tahun?
            Tokoh rekaan Tere Liye ini berhasil menghipnotis para pembaca setianya. Cetakan buku yang kedua belas berjudul Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin sukses merebut hati pembacanya. Filosofi dari judul yang terpaparkan sebagai wujud bahwa seorang Tere Liye mampu mengekspresikan kehidupan dalam percintaan beda usia yang sekarang sedang marak dengan tulisannya. Cinta dengan perbedaan usia sekarang ini, bukanlah dipandang sebagai hal yang tabu lagi. Banyak pasangan yang memilih untuk mengakrabkan cinta dengan pasangan mereka melalui pernikahan beda usia. Bahkan yang sangat jauh.
            Fenomena pernikahan beda usia bagi sebagian masyarakat saat ini masih dirasa sebagai hal ganjil. Pasalnya, mereka cenderung berpikir dengan pernikahan beda usia yang sangat jauh akan berpengaruh pada keturunan maupun anak-cucu mereka. Persis seperti yang dialami oleh tokoh rekaan Tere Liye dalam novel ini, Tania dan Danar. Usia yang terpantau jauh membuat mereka enggan untuk mengatakan bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.
            Cinta terkadang memang tak mengenal usia. Saat ini pun banyak pasangan yang menikah dengan usia yang terpaut cukup jauh. Namun, perbedaan usia bukanlah sesuatu yang aib, bila pernikahan berdasarkan cinta dan merasakan kenyamanan satu sama lain. Perbedaan usia pada sebuah hubungan akan membawa dampak yang berbeda-beda. Di dalam pandangan Islam, tidak ada batasan usia dan ketentuan khusus mengenai usia dalam pernikahan. Hal ini lebih banyak diserahkan kepada adat istiadat yang berlaku dia daerah tersebut.
Di beberapa adat , ada orang tua yang melarang anak gadisnya untuk tidak menikah dengan pria yang punya perbedaan usia yang cukup jauh.        Perbedaan umur yang terlalu jauh juga dikhawatirkan mengakibatkan perbedaan visi.  Bila berkeca ke belakang, pernikahan beda usia cukup banyak dilakukan di masyarakat sejak zaman dahulu. Bahkan beberapa wacana menyebutkan adanya perrnikahan antara sang kakek dengan cucunya
Seperti fenomena pernikahan beda usia yang terjadi di Jepang. Gadis berusia 20 tahun akan menikah dengan kakek yang berusia hampir 60 tahun. Bahkan, ayah si gadis Lin Jing-en sudah meminta pacarnya Li –Kuncheng untuk segera melamar anak gasinya. Kemudian, ayahnya meminta hubungan keduanya segera dipersatukan dengan sebuah pernikahan.
              Lain lagi dengan hukum adat pernikahan yang diterapkan oleh masyarakat Jawa, sebuah adat dan kepercayaan bahwa pantang menikahkan anak pertama atau mbarep dengan anak pertama juga, begitupun sebaliknya anak terakhir atau bungsu tidak boleh menikah dengan anak bungsu juga. Adat ini telah mendarah daging bagi banyak orang. Dan seperti sudah menjadi keharusan untuk dilaksanakan dan diterapkan pada keluarganya, jika tidak maka mereka yang percaya meyakini jika dilanggar akan terjadi bencana, tidak bahagia, dan hal jelek lainnya. Tentu adanya hukum adat ini tidak asal-asalan dibuat. Mereka juga mempunyai alasan-alasan tertentu mengapa ada sebuah pantangan tersebut.
Menurut psikolog Ine Nadriyani Aditya, pernikahan dengan pasangan beda usia, apalagi jika satu pihak masih remaja, sebaiknya tidak dilakukan. Ine mengatakan, usia remaja adalah peralihan menuju fase dewasa sehingga secara psikologis mereka belum stabil, keputusan menikah adalah keputusan besae sehingga ditintut pemikiran mendalam dan bijak. Namun menurut Ine, kondisi remaja sekarang sudah berbeda. Remaja saat ini memiliki tuntutan, impian, dan harapan yang sangat banyak.
 Pernyataan Ine ternyata sangat bertolak belakang dengan hukum adat. hukum adat tidak menentukan batasan umur tertentu bagi orang untuk melaksanakan pernikahan, Bahkan hukum adat membolehkan pernikahan anak-anak yang dilaksanakan ketika anak masih berusia kanak-kanak. Hal ini dapat terjadi karena di dalam hukum adat perkawinan bukan saja merupakan persatuan kedua mempelai tetapi juga merupakan persatuan dua buah keluarga kerabat.
            Novel ini dibungkus dengan penuturan kata yang sangat apik. Tere Liye memang mempunyai jiwa yang dapat membuat pembacanya tertarik dan memiliki hasrat untuk terus menikmati karyanya. Berbeda dengan karya Tere Liye yang lain, novel ini meskipun sederhana tapi kita bisa merasakan keistimewaan lewat penuturan kata yang apa adanya. Walaupun ceritanya sedikit klise, namun tidak mengurangi porsi pembaca untuk segera menuntaskan bagian akhir cerita.
Aku membuang ingus. Tersedan.
            “Aku tak pernah berani mengatakannya…. Bagaimana mungkin aku mencintai malaikat kami.  Aku berpikir aku tak akan pernah layak mencintaimu. Bersabar menunggu hingga aku cukup layak menyentuh perasaanmu. Sayangnya saat aku merasa layak, kau memutuskan untuk menikah dengan gadis lain. Kau ‘mengatakan’ semua perasaanmu dengan menikahinya.
            Konflik yang dipaparkan membuat kita dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut. Cinta tidak hanya tumbuh dan dirasakan, namun cinta harus dikomunikasikan.  Komunikasi memang sangat penting bagi setiap orang di dunia ini, dengan berkomunikasi kita dapat menyampaikan ide, gagasan, maupun persepsi kepada orang lain. Begitu pula dengan cinta. Untuk apa menumbuhkan rasa, merawat cinta namun tidak mengkomunikasikannya selama bertahun-tahun? Bagian inti konflik inilah yang membuat pembaca termasuk saya geregetan dengan ending cerita yang kurang memuaskan.
“Katakanlah… apa kau mencintaiku?” aku berbisik lirih. Berdiri. Menatap mata redupnya. Jarak kami hanya selangkah.
“Katakanlah… walau itu sama sekali tidak berarti apa-apa lagi.”
            Kutipan percakapan tersebut semakin menunjukkan relasi dengan judulnya. Terutama filosofi “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, apapun yang kita alami, jangan pernah menyalahkan keadaan. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”
 “Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus, Tak peduli lewar apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angina merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar