Senin, 23 Maret 2015

PERJALANAN HIDUP SI PENGAMEN CILIK



PERJALANAN HIDUP SI PENGAMEN CILIK
            Malam yang sunyi, tak seorangpun yang menemani. Hanya suara jangkrik yang setia datang saat malam tiba. Aku hanya mentelentangkan tubuhku di atas tikar yang sudah rusak entah mengapa. Memandang ke atas melihat atap genting yang sudah bocor terhempas hujan dan angin. Serta lampu yang memancarkan cahaya kuningnya  tepat mengenai kedua bola mataku. Membuat suasana semakin senyap. Seketika itu, aku melirikkan mataku pada sebuah kalender kusut yang aku gantung di depan lemari pakaianku. Mengangkat tangan kananku dan menujuk ke salah satu tanggal dengan jari telunjukku.
“2 hari lagi, genap 5 tahun aku tinggal tanpa bapak di rumah tua ini” .
            Aku menelan ludah. Merasakan pahitnya kehidupan ini. Ada keinginan untuk merubah semuanya. Tapi tak mungkin, aku tak berpendidikan dan tak punya keahlian apapun. Suasana yang sunyi. Membuat akupun sejenak melupakan ambisiku dan tertidur lelap dengan ditemani suara jangkrik yang mengalun.
            Sang mentari mulai muncul dari ufuk timur. Memancarkan sinarnya menembus rumah tua. Sinarnya tepat mengenai wajahku yang kusut, Aku terbangun dan segera melipat kembali tikar yang kupakai sebagai alas tidur. Bersiap-siap seperti biasanya mengamen di pinggir jalan. Saat akan berangkat, terdengar langkah kaki dan suara alat musik yang biasa aku pakai untuk mengamen. Dengan refleks wajahku menoleh mencari sumber suara itu.
            “Hei, Eko. Tunggu.” aku berlari mengejar sosok laki-laki itu.
            “Eh, kamu. Baru berangkat ya?” bertanya dengan rasa penasaran.
            “Iya nih ko, aku tadi kesiangan. Ya sudah kita berangkat sekarang saja.” sambil menarik tangan  Eko.
            “Eh iya, ayo.” berlari tergopoh-gopoh.
            Lampu merah terlihat dari arah jauh. Pertanda lalu lintas sudah berjalan seperti biasanya. Aku dan Eko menuju tempat dimana aku mencari perhatian orang. Berharap mereka mengasihani aku dengan memberikan uang receh. Sesaat langkahku terhenti melihat sosok laki-laki membawa tas. Sosok itu, sangat mirip dengan orang yang pernah aku kenal. Ya, bapakku. Aku segera berlari mengejar sosok lelaki itu, tapi terhadang oleh badan Eko.
            “Hei, mau kemana kamu?” tanya Eko kepadaku.
            “Anu eh eh” menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata.
            “Ayo cepat, kendaraan sudah berlalu lalang. Nanti terburu yang lain.” teriak dan berlari.
Akupun mengangguk dan seketika itu mataku melirik ke arah sosok tadi yang berjalan. Ternyata bayangannya sudah lenyap dari mataku.
            “Ah, sudahlah. Lupakan” berkata dalam hati.
Seperti biasa, aku mengamen di pinggiran jalan dengan semangat. Menyanyikan lagu yang selalu dinyanyikanku saat mengamen.
            “Cita-citaku menjadi orang kaya. Dulu ku susah sekarang alhamdulillah. Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa. Memberi jalan untukku semua.” bernyanyi dengan penuh semangat.
Eko pun meneruskan lirik lagu yang sedang kunyanyikan.
            “Hidupku dulunya seorang pengamen. Pulang malam selalu bawa uang recehan. Mengejar cita-cita paling mulia. Membantu keluarga di rumah.”
            Dengan membawa sekantong bungkus permen yang telah kosong. Satu per satu kendaraan ku hampiri . Dengan penuh harap, mereka mau memberi uang receh. Aku melanjutkan untuk bernyanyi. Tak mempedulikan suaraku yang pantas didengar atau tidak. Yang terpenting, aku dapat membawa pulang segenggam uang receh yang tak tentu hasilnya seberapa.
Terik matahari yang sudah akan lenyap di ufuk barat. Memutuskanku untuk pulang ke rumah.
            “Eko, ayo kita pulang. Hari sudah sore!” bertanya pada Eko.
            “Kamu pulang dulu saja, aku masih ingin mengamen disini.” jawab Eko.
            “Tapi, ini sudah sore ko. Suasana malam berbahaya untuk mengamen.” Nasehatku.
            “Tidak, ah. Aku bisa jaga diri.” Jawab Eko dengan mantap.
            “Ayo, cepat. Sebelum para preman datang merampas semua hasil keringat kita.”             menarik tangan Eko,
            “Aku tidak apa-apa, aku janji aku akan pulang sebelum para preman itu datang.”   berkata sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.
            “Ya sudah, hati-hati yaaa ?!?” melambaikan tanganku ke arah Eko.
            “Iya , kamu juga yaa.. hati-hati di jalan” membalas lambaian tanganku.
            “Iya sipp!” mengacungkan jari jempol ke arah Eko.
Eko pun hanya membalas dengan senyumnya.
            Aku pun berjalan. Langkah yang semangat menyusuri rerumputan yang kekuning-kuningan tersorot teriknya mentari di sore hari. Dengan membawa sekantong bungkus plastik permen yang didalamnya terdapat beberapa receh uang logam yang hasilnya sudah dibagi dua dengan Eko. Rumah tua yang terlihat kejauhan membuatku tak sabar ingin bertemu dengan sesosok malaikat yang selalu menjagaku.
            “Assalamu alaikum, bu ?” sapaku dengan nada ramah.
            “Waalaikum salam, nak.” balasnya dengan senyum manis.
Aku meraih tangan ibu, dan memeluknya.
            “Ini bu, hasil mengamen aku tadi. Tak terlalu banyak. Tapi yah cukuplah untuk makan      malam hari ini bersama.”  kata ku.
            “Nak, sebaiknya kamu tidak usah mengamen. Ibu khawatir terjadi apa-apa di luar sana.   Biar ibu saja yang bekerja.” kata ibu.
            “Tidak apa-apa bu, aku bisa kok jaga diri.” jawabku sambil memandang wajah ibu.
            “Tapi nak....?” ujar ibu.
            “Sudahlah bu, tidak apa-apa. Lama-lama aku juga terbiasa.” jawabku dengan mantap.
            “Sebelumnya, ibu minta maaf ya nak. Ibu belum bisa menyekolahkan kamu. Tapi, ibu      janji. Suatu saat, kalau ibu sudah punya rezeki. Ibu janji akan menyekolahkan kamu             seperti layaknya teman-teman seumuranmu.” kata ibu.
            “Iya bu, aku juga akan menabung untuk biaya tambahan sekolah.” jawabku.
            Aku memandangi wajah ibu. Menatap matanya. Merasakan kehangatan kasih sayangnya yang tak pernah putus. Terus mengalir seperti sungai. Dan seketika itu, aku memeluknya. Menangis di pelukannya. Ingin rasanya membuat dia bahagia. Membuat dia bangga mempunyai anak seperti aku yang hanya seorang pengamen jalanan. Dan sempat terlintas di fikiranku. Dalam hatiku berkata,
            “Semoga dia tak pernah menyesal telah melahirkanku”.
            Ibu pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku dengan penuh kasih sayangnya. Ia mengajak untuk makan malam bersama dan melepas lelah. Setelah selesai makan malam, seperti biasa aku mengambil tikar dan menggelarnya sebagai alas tidur. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tak bisa tidur. Dinaungi oleh bayangan sosok lelaki yang mirip bapakku. Ya, bapakku telah meninggal 2 tahun silam.
            Ia meninggal karena penyakit jantung sewaktu aku masih berumur   tahun. Ibu sempat menikah lagi, dengan seorang buruh yang bekerja di salah satu pabrik di kota. Tapi, sekarang aku dan ibu tak pernah tau dimana keberadaan bapak tiriku. Rasanya kurang lengkap dalam keluarga tanpa kehadiran seorang bapak. Tak terasa mataku sudah tak tahan membendung air mata ini. Dan aku memutuskan untuk memenjamkan mata dan menyapa hari esok.
            “Kukuruyukkkk....”
            Terdengar kokokan ayam, pertanda pagi telah tiba. Aku mengangkat badanku dari tikar kusut. Rasanya badan ini sangat lelah, akibat kemarin seharian bekerja. Tapi, tak mumutuskan semangatku untuk pergi mengamen kembali.
            “Nak, ibu berangkat dulu ya..” kata ibu.
            “Iya bu, hati-hati dijalan ya bu..” jawabku.
            “Iya..nak”. melambaikan tangan ke arahku.
            Tak terasa bayangan ibu, sudah lenyap dan tak terlihat dari sudut rumahku. Ibuku harus berangkat awal pagi ini, karena hari ini adalah jadwal keberangkatan kereta api Argobromo yang ditumpangi para pekerja yang hendak pulang ke kampung masing-masing. Ia juga melakukan kegiatan yang sama sepertiku. Yaitu mengamen.
Dan saat itulah, terlintas di benakku. Teringat akan nasehat ibu yang ia katakan saat aku tertidur lelap di sampingnya. Aku tak sengaja mendengar nasehat itu. Ia mengatakan.
            “Kamu tidak boleh seperti ibu, nak. Yang kerjanya hanya minta-minta. Kamu harus           mengangkat derajat keluarga kita dengan prestasimu. Dengan cita-citamu. “
            Aku sangat ingin mewujudkan nasehat ibu. Aku juga ingin membuktikan kalau aku bisa mewujudkannya. Tapi, apa daya keadaan ekonomi yang terbatas membuat aku pesimis akan ambisiusku yang kuat.
            “Hei.. kak. Jangan melamun terus. Tidak baik loh!” kata adikku dari arah belakang.
            “Eh.. kamu rul. Kakak tidak melamun kok.” Jawabku.
            “Kakak bisa saja alasannya. Buktinya, sedari tadi kakak memandangi ibu yang akan        berangkat bekerja.” ledek Nurul.
            “Ah sudahlah rul. Kakak mau berangkat dulu. Nanti kesiangan.” ujar ku sambil berdiri       dari kursi.
            “Ya sudah kak. Hati-hati yah.” kata Nurul.
            “Assalamu alaikum . .” berlari sambil mengucapkan salam.
            “Waalaikumsalam . .” Nurul menjawab salamku.
            Sesampainya di pinggir jalan, tak seperti biasanya lalu lintas sangat sepi entah apa yang terjadi. Hari ini, Eko tak terlihat di tempat biasa mengamen. Akupun melihat sekerumunan anak jalanan yang juga teman-temanku. Dengan rasa penasaran akupun segera menghampiri mereka.
            “Eh, kalian lihat Eko tidak? Aku sudah cari dia kemana saja tapi tidak ketemu. Atau dia    pindah tempat mengamen ya?” tanyaku.
            “Eko yang mana sih?” jawab salah satu dari mereka.
            “Itu lho, Eko yang biasa berangkat mengamen bersama denganku.” Jawabku.
            “Oh, si Eko. Sepertinya dia sedang sakit, memangnya kamu tidak tahu ya?”          menjelaskan dan bertanya kepadaku.
            “Sakit? Aku tidak tahu.” Jawabku dengan wajah cemberut.
            “Iya, sakit demam.” Jelasnya.
            “Oh ya sudah. Thanks yah. Sudah memberi tahu.” Mengucapkan terima kasih padanya.
            “Iya sama-sama.” Membalasnya dengan wajah tersenyum.
            Dengan ditemani terik mentari, kali ini aku mengamen sendiri. Tanpa Eko. Rasanya sepi tak ada canda tawa yang menyelimuti. Akupun tetap mengamen hingga terhenti pada salah satu mobil mewah. Seperti biasa aku menyanyikan lagu kebanggaanku dengan diiringi alat musik yang terbuat dari tutup botol. Serta membawa sebungkus wadah permen.
            Hingga kaca mobil yang tadinya gelap tertutup kaca film. Kini terbuka, dan aku dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil. Ternyata seorang laki-laki berjas hitam, gagah, dan terlihat berwibawa. Tiba-tiba dia bertanya padaku. Dan memegang pundakku. Aku tersentak kaget.
            “Ade, namanya siapa? Rumahnya dimana?” tanyanya dengan penuh penasaran.
            “Nama saya Iwan pak, rumah saya ada di Jl.Melati No.5, pak.” jawabku dengan ragu-      ragu.
            “Sekolah dimana de?” tanya sang Bapak kembali.
            “Maaf pak, saya tidak sekolah. Saya mengamen untuk membantu ibu saya.” menjawab dengan mantap.
            “Oh begitu, tapi kamu punya bakat yang luar biasa, de.” Puji Bapak kepadaku.
            “Bakat? Saya tidak punya bakat apa-apa pak, saya hanyalah pengamen jalanan yang      kerjanya hanya minta-minta.” Jelasku.
            “Tidak, de. Kamu punya talenta dan suara yang bagus. Dan itu membuat saya kagum      terhadapmu.” Pujinya kembali.
            “Terima kasih, pak.” Mengucapkan terima kasih dengan wajah tersenyum.
            “Ini de, saya kasih kamu kartu nama saya. Barangkali kamu butuh bantuan saya. Kamu bisa menelpon nomor yang tertera di kartu itu.” Tersenyum sambil memberi sebuah          kartu nama kepadaku.
Tinnnnn.Tinnnnn.Tinnnnnnnnn
            Suara klakson mobil dari arah belakang membuatku dan bapak itu terkejut. Mobil mewah itupun segera meluncur dengan cepatnya. Akupun segera berpindah tempat ke tempat yang rindang. Sempat memandang mobil itu, tapi mataku mengalihkan pandangan pada sebuah kartu nama yang sekarang ada di tangan kananku. Tertulis nama SUDIRMAN sebagai Produser Perfilman di Jakarta. Aku terkejut saat membacanya, aku mengira tadi adalah mimpi. Mimpi bertemu dengan orang terkenal yang sangat berjasa di dunia perfilman.
            Aku berlari pulang. Aku sudah tak sabar ingin memberi tahu ibu tentang percakapan aku dengan bapak tadi. Tak menghiraukan apakah ini masih pagi, siang, ataupun sore. Mengabaikan berapa hasil yang kudapat hari ini di kantong plastik permen. Berlari dengan rasa bahagia, dihiasi dengan senyuman. Melangkah dengan diiringi kicauan burung dan teriknya sang mentari yang menyengat. Tak membuatku terhenti untuk melangkahkan kaki ini.
Dari kejauhan terlihat ibu yang ternyata sudah pulang dan sedang duduk bersama Nurul.
            “Ibuuuuuuu.......... aku senang sekali hari ini.” memeluk ibu sambil berlari.
            “Hei...hei.. ada apa ini wan? Kok kamu girang sekali seperti ini?” tanya ibu.
            “Itu bu, tadi aku...ehh...tadi aku ..aaaaaaaa!!” teriak sambil meloncat-loncat.
            “Tadi apa kak? Ayolah cepat. Tak usah banyak teriak-teriak.” kesal Nurul.
            “Tadi aku bertemu dengan Pak Sudirman.” Jawabku dengan penuh semangat.
            “Pak Sudirman siapa kak? Rasanya aku baru pernah mendengar nama itu.” jawab           Nurul.
            “Itu lho de, bu. Produser Perfilman yang terkenal di Jakarta.” jelasku kepada mereka.
            “Oh itu, memangnya ada apa tho ndo ?” ibu bertanya dengan logat jawanya.
            “Ini bu, aku dikasih kartu nama ini. Disini tertera nomor teleponnya. Tadi, ia mengatakan jika kita butuh bantuannya. Kita bisa menelpon ke nomor ini, bu.” jelasku.
            “Oalah ndo, itu hanya merepotkan orang lain. Lagian kan, Pak Sudirman di Jakarta juga banyak kerjaan. Jadi, tak mungkin beliau meluangkan waktu untuk kita.” jawab ibu.
            “Tapi.....bu” tolak ku.
            “Sudahlah ndo, kita juga tak punya telepon untuk menghubungi nomor ini.” jelas ibu          dengan menunjuk ke nomor telepon yang tertera di kartu nama.
            “Ya sudahlah bu, sebaiknya aku simpan saja kartu nama ini.” menjawab dengan muka     cemberut.
            Aku sedikit tak puas dengan respon yang ibu katakan tadi mengenai kartu nama itu. Tapi, memang ada benarnya juga apa yang dikatakan ibu. Pak Sudirman bukan orang yang sembarangan. Beliau orang yang terkenal. Beliau juga pasti sibuk mengurusi produksi film terbaru dan tak mungkin masih ingat aku. Aku bukan siapa-siapa. Aku terlihat sangat kecil dimata beliau. Sudahlah tak usah bermimpi tinggi. Memang benar apa yang dikatakan oleh ibu.
Dalah hatiku berkata, “Terima kasih ibu, kau telah menyadarkanku dari dunia impian khayalku yang tak mungkin terjadi dan tak harus terjadi.”
Tetesan embun pagi menyelimuti rerumputan yang hijau.

            Hilir mudik kendaraan dengan asapnya yang mengotori udara siang hari. Membuatku dan Eko sudah tak ingin berlama-lama di tempat ini. Suasana makin menyengat bak air yang sedang direbus. Aku menyenggol siku Eko saat melihat seorang penjual koran yang mengelilingi satu per satu mobil yang berhenti.
            “Koran.....koran....korannya pak, bu.” Si penjual koran menawarkan korannya kepada      pengemudi kendaraan.
Meski tak ada yang tertarik dengan koran jualannya. Namun, ia tetap bersemangat menawarkan dagangannya. Saat itu juga, aku terheran-heran dan bertanya pada Eko.
            “Ko, kamu tau tidak? Pemuda itu?” tanyaku pada Eko.
            “Pemuda yang mana wan? Penjual koran itu?” jawab Eko dengan ragu.
            “Iya, penjual koran itu. Kamu pernah melihat sebelumnya tidak? Rasanya wajah itu          sangat asing di mataku.” tanyaku dengan mengerutkan dahi.
            “Iya, aku juga tak pernah melihatnya di pinggiran jalan ini. Mungkin dia berpindah tempat berjualan.” Jelas Eko.
            “Oh begitu ya..” dengan wajah melongo.
            Sang pemuda tersebut, terus menawarkan barang dagangannya. Karena ia merasa tak ada yang berminat untuk membeli koran-korannya, sang pemuda itu menambah kata-katanya dengan mempromosikan berita yang ada di dalam koran.
            “Korannya pak, bu. Ada berita baru, Iwan si pengamen cilik. Mengunggah video    mengamennya ke youtube dan dilihat oleh 1.333.000 orang. Ayoo...beli korannya pak             ?!” menawarkan dengan penuh semangat dan berharap ada yang melirik dagangannya.
Aku tak sengaja mendengar namaku dipanggil-panggil oleh si pemuda tersebut. Aku makin penasaran dan membisikkan sesuatu pada Eko.
            “Eh, ko. Kamu dengar tidak? Namaku dipanggil-panggil pemuda itu.” Tanyaku      padannya.
            “Eh, iya. Aku juga dengar itu.” Jawabnya dengan pelan.
            “Memangnya apa yang diberitakan?”
            “Aku sih tak terlalu mendengarnya dengan jelas.” kata Eko
            “Oh...ya sudah”. aku mengangguk-angguk.
Tak disadari, sang pemuda penjual koran tiba-tiba menghampiri aku dan Eko.
            “De..korannya de..” tawarnya
Tiba-tiba, sang pemuda itu terkejut saat melihatku dan Eko. Dan sekilas melihat ke arah koran yang dijualnya.
            “Hei..kamu Iwan. Iwan si pengamen cilik yang mengunggah video di youtube itu?”            kata si penjual koran dengan memegangi pundakku.
            Semua orang yang sedang menunggu munculnya lampu hijau. Tiba-tiba matanya tertuju ke arahku yang sedang kebingungan. Mereka semua benar-benar melihat ke arahku. Mungkin gara-gara sang penjual koran itu terlalu keras menyebutkan namaku. Tapi, aku sungguh masih tak mengerti apa yang dimaksud pemuda itu.
            “Maksudnya apa ya mas? Saya tidak mengerti!” jawabku dengan wajah bingung.
            “Lihat ini!” sang pemuda menyodorkan korannya kearahku dan Eko.
            Ternyata di situ terdapat fotoku yang terlihat sedang bernyanyi dengan pakaian yang kumal. Dan ternyata videoku saat mengamen diunggah ke youtube. Aku sungguh masih tak mengerti apa maksud berita ini. Tiba-tiba. aku teringat pada kartu nama itu. Ya, pak Sudirman. Tanpa sadar, tanganku merogoh saku celana dan mengambil kartu nama itu di dalamnya. Kartu nama itu sekarang sudah berada di tangan kananku. Eko dan si penjual koran terheran-heran apa yang sedang aku lakukan dan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Akupun mengalihkan pandangan kembali pada benda yang berada di tangan kananku.Ya, koran.
            Dan ternyata, nama pak Sudirman dan nomor teleponnya tertera di dalam koran itu. Aku tak percaya akan hal ini. Dan segeralah aku mencocokkan nama dan nomor telepon yang ada di kartu nama dengan yang di koran. Aku terkejut saat keduanya sama persis. Eko pun tak kalah ingin tahu. Ia segera merebut koran itu dari tangan kananku. Dan melihat foto itu dengan serius dan benar-benar sangat mengamati fotoku. Meyakinkan bahwa itu adalah fotoku. Ternyata pandangannya mengatakan benar bahwa itu adalah fotoku. Eko langsung melirikkan pandangannya padaku dan bertanya padaku dengan diselimuti rasa haru dan gembira.
            “Hahh? Iwan kamu? Iwan si pengamen cilik?.” Eko bertanya padaku dengan rasa            penasaran.
THE END



Time is Life


TIME IS LIFE
Tetttt. Tetttt. Tettttttt
            Bel pulang berbunyi menandakan siswa-siswi dapat pulang ke rumah masing-masing. Akupun segera membereskan buku dan peralatan tulis yang berserakan dimeja untuk dimasukkan ke tas. Seperti biasa, saat bel pulang sekolah wajahku terlihat sumringah karena ingin cepat-cepat sampai di rumah dan segera mentelentangkan tubuhku di tempat tidur. Seketika itu, Shela teman sebangkuku tiba-tiba bertanya padaku.
            “Eh, hari ini kerja kelompok ya?” tanya Shela
            “Hah? Kerja kelompok? Memangnya ada PR?” jawabku dengan lantang.
            “Memangnya kamu tidak ingat ya? Tadi kan pak guru bilang. Ia menyuruh kita untuk        mengerjakan soal di LKS halaman 30.” Jawab Shela.
            “Apa tidak sebaiknya dikerjakan di rumah saja?” menjawab dengan nada kecewa.
            “Tidak! Pokoknya kita harus kerja kelompok sekarang juga.” Jawab Shela dengan lantang.
            “Ya sudah.” Jawabku dengan nada menyerah.
            Aku memang hanya bisa mengalah saat Shela sudah banyak maunya. Apalagi kalau masalah pelajaran, dia selalu ngotot ingin kerja kelompok denganku. Memang, seharusnya aku senang diajak kerja kelompok bersamanya,aku bisa mendapat nilai baik karena dia merupakan salah satu murid yang pintar di kelasnya. Tapi alasanku tak terlau suka dengan dia, karena dia tak mengerti keadaanku. Dia tak pernah tau betapa capenya  .
            “Kita langsung kerumahku ya?” tanyanya padaku.
Aku hanya membalas pertanyaannya dengan mengangguk.
            Teriknya sang mentari membuatku makin tak bersemangat untuk belajar bersama dengan Shela. Langkahku terkoyong-koyong ditambah dengan beban berat yang ada di pundak. Hari ini memang setiap pelajaran harus membawa buku paket ataupun referensi lainnya. Ditambah lagi dengan wajah cemberut yang menakutkan mirip seperti Zombie.
Sesampainya di rumah Shela, akupun di persilahkan duduk olehnya. Rumahnya terlihat kosong. Membuatku leluasa meluruskan kakiku yang agak pegal akibat pelajaran olahraga tadi.
            “Duduk dulu ya, akan aku ambilkan minuman.” kata Shela.
            “Iya Shel.” Jawabku.
            Shela kemudian keluar dengan membawa 2 gelas es sirup. Yang membuatku tak sabar untuk membasahi tenggorokanku yang agak kering. Dia juga membawa sepiring cookies coklat yang merupakan cemilan kesukaanku.
            “Diminum dulu.” Kata Shela.
            “Iya Shel, terima kasih.” Jawabku dengan tersenyum.
Aku langsung menyantap keduanya dengan lahap hingga habis. Tanpa disadari, ternyata Shela sedari tadi memandangiku dengan wajah heran dan bingung.
            “Kamu lapar sekali yah?” tanyanya padaku dengan heran.
            “Heheh...” menjawab dengan terkekeh.
            Waktupun menunjukkan pukul 14.00. Kita pun memulai kegiatan kerja kelompok dengan mengeluarkan LKS dan membuka halaman yang akan kami dikerjakan. Dua jam berlalu, setelah semua soal terselesaikan, aku berpamitan pulang pada Shela. Dan kebetulan disitu ada ibu Shela. Akupun langsung meraih tangan ibu Shela dan mengajaknya untuk bersalaman.
            “Saya pulang dulu ya bu?” kata ku pada ibu Shela.
            “Oh iya ndo, hati-hati yah dijalan.” jawab ibu Shela.
            “Iya bu, Assalamualaikum?” kataku padanya.
            “Waalaikumsalam.” jawabnya.
            Akupun bergegas meninggalkan rumah Shela. Dengan melambaikan tanganku pada Shela menandakan hari ini aku telah bebas dari omelan si cerewet itu. Aku tersenyum lega dan berjalan menuju pinggiran jalan untuk menunggu bis. Dari kejauhan, terdengar suara petir yang samar-samar. Namun, aku dapat mendengarnya dengan jelas. Ini menandakan akan hujan deras. Rintik-rintik hujan pun membasahi jalanan yang berdebu. Aku segera berpindah ke tempat yang lebih teduh. Hujan semakin deras, itu membuatku sangat kesal dan memasang wajah cemberut.
            Saat itu juga, tiba-tiba handphone ku bergetar. Akupun segera merogoh saku dan melihat siapa yang telah mengirimkan pesan. Ternyata pesan dari ibuku. Ia mengatakan bahwa di rumahku hujan deras. Sejenak, aku berfikir. Aku harus segera membalas pesan ini, dan tiba-tiba handphone ku mati karena baterainya habis.
            Klakson bus terdengar di telingaku. Ya benar, bus tersebut sudah berada di hadapanku. Langkah kaki ku tergerak untuk menaiki setiap tangga yang ada di bus. Bus terasa sesak sekali. Akupun terpaksa berdiri dan berusaha menyeimbangkan badan agar tidak jatuh. Kebetulan aku berdiri di samping seorang bapak yang sedang merokok. Aku benci sekali dengan rokok. Itu membuatku bergeser sedikit menjauhi si bapak tadi.
            Tapi bus terlalu sesak, akupun hanya bisa menghela napas dan menutup hidup agar terhindar dari asap rokok tersebut. Hingga bus melaju dengan kencang. Sang kondektur mulai menariki uang kepada para penumpang. Aku mengambil uang yang ada di dalam sakuku, aku berharap yang aku ambil adalah uang Rp 1000, tapi ternyata dugaanku salah aku mengambil uang sebesar Rp 2000. Dan itu adalah uang terakhirku. Sang kondektur mulai kesal menungguiku yang sedari tadi tak lekas membayar ongkos dan menampakkan wajah bingung.
            “Mbak.. ayo cepat mana ongkosnya?” tanya sang kondektur dengan kesal.
            Aku tersentak kaget saat si kondektur bertanya padaku. Aku langsung menyodorkan uang Rp 2000 kepadanya dan tak peduli apa sebenarnya yang tadi ia katakan. Tiba-tiba sang kondektur bergegas pergi menariki ongkos penumpang yang lain. Tak mengembalikan uang Rp 1000 yang seharusnya sebagai kembalian. Dan akhirnya aku harus merelakan uang tersebut dengan seikhlas-ikhlasnya. Itu alasanku mengapa aku tak suka membayar ongkos bis dengan uang Rp 2000, karena pasti sang kondektur tidak mengembalikan uangnya yang harusnya sebagai kembalian.
            “5 menit lagi aku sampai di rumah.” celetuk ku sambil memandangi jam yang kupakai        dengan wajah yang sumringah.
            Seperti biasa, aku harus menelpon atau mengirim pesan kepada ibu. Agar beliau menjemputku. Saat mengeluarkan handphone, aku baru sadar jika handphoneku mati. Sore ini, aku putuskan untuk berjalan kaki sampai di rumah. Hujan masih cukup deras, membuat seragam dan sepatuku basah. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh adikku. Aku sudah tak peduli dengannya. Aku langsung memasuki kamar dan adikku berusaha untuk membuntutiku dan ikut masuk kedalam kamar. Tapi, aku menolaknya. Aku langsung memarahinya dan itu membuatnya meneteskan airmata. Aku sungguh sudah tak peduli lagi akan hal itu. Aku benci hari ini.
            Malam ini, aku tak makan malam bersama dengan keluarga. Aku tak terlalu lapar. Aku lebih memilih mentelentangkan badanku yang sudah tak kuat memopang beban berat. Sejenak  aku melihat jam dinding. Ternyata, jam menunjukkan pukul 22.00. Perutku yang keroncongan menuntunku untuk keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Sesaat sebelum aku sampai di ruang makan. Aku melewati ruang tidur adikku. Tak tau mengapa, langkahku berjalan masuk ke arah tempat tidur adikku. Aku melihatnya tertidur lelap dan membuatku berfikir sejenak.
            “Aku memang sangat bodoh.” kataku dalam hati.
            Aku sangat menyesal akan kejadian tadi. Aku memarahi adikku yang tak bersalah. Ia bahkan rela menungguiku berjam-berjam untuk menanti kedatanganku. Tapi, aku membalasnya dengan hal yang sangat bodoh. Aku segera meninggalkan kamar tidurnya dan berjalan berbalik arah. Dan berkata dalam hati, “Maafkan aku ya de..”
            Aku memang sangat bodoh. Aku telah memiliki waktu di rumah hanya beberapa jam saja. Tapi, aku hanya memanfaatkannya dengan hal-hal yang bodoh, dengan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Hingga kini, aku baru sadar betapa berharganya waktu. Waktu yang menuntun kita menjadi seperti sekarang. Orang kaya tak bisa kaya tanpa waktu. Seorang murid tak bisa pintar tanpa waktu.Waktu tidak dapat dibalikkan dan tidak dapat digantikan. Jika, kita menyia-nyiakan waktu berarti sama saja kita menyia-nyiakan kehidupan. Time is Life  ^0^


H-3 27 Maret

H-3 27 Maret. Tepat satu tahun lalu kita masih bersama. Namun kini berbeda, kau telah bersama yang lain begitupun denganku. Kau telah memilih perempuanmu yang menurutmu terbaik untukmu begitupun dengan diriku. Aku telah memilih seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku apa adanya. Tidak seperti kau yang mengagumi diriku hanya karena aku memiliki wajah serupa dengan perempuanmu yang dahulu. Sudahlah, aku kira waktu 1 tahun cukup untuk melenyapkan secuil kenangan yang kita ukir bersama. Tidak ada yang perlu disesali dan tidak ada yang perlu disalahkan dengan semua kejadian ini. Yang pasti aku mengambil hikmah dari semua peristiwa ini, ternyata perasaan tak bisa dipaksakan. Perasaan tak bisa diganggu gugat, semuanya natural, alami, dan berjalan apa adanya.
Aku harap semuanya akan berjalan baik-baik saja untuk kedepannya, dan semoga ini pilihan terbaik untuk kita. Tak perlu merasa bersalah dengan semuanya. Itu hanya rencana Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa cinta tak selalu datang hanya karena ketertarikan sesaat. Tepat tanggal 27 Maret ini juga, hari yang cukup menyenangkan bagiku. Telah 4 bulan lamanya aku bersamanya. Entah mengapa semuanya terjadi diwaktu yang bersamaan, namun bedanya dengan yang dahulu ialah dengan siapa sekarang aku bertahan.

Aku harap dia lebih baik daripada kau. Aku sangat percaya itu. Aku harap dia akan selalu bersedia menyediakan pundak saat aku lelah dan tetap menjadi tempat aku bercerita seperti yang kau lakukan dahulu kepadaku. Terimakasih kenangan. Terimakasih Bali. Terimakasih Maret. Bye bye dengan hidupmu yang baru dan lebih berwarnaaa….