TIME IS LIFE
Tetttt.
Tetttt. Tettttttt
Bel pulang berbunyi menandakan
siswa-siswi dapat pulang ke rumah masing-masing. Akupun segera membereskan buku
dan peralatan tulis yang berserakan dimeja untuk dimasukkan ke tas. Seperti
biasa, saat bel pulang sekolah wajahku terlihat sumringah karena ingin
cepat-cepat sampai di rumah dan segera mentelentangkan tubuhku di tempat tidur.
Seketika itu, Shela teman sebangkuku tiba-tiba bertanya padaku.
“Eh, hari ini kerja kelompok ya?”
tanya Shela
“Hah? Kerja kelompok? Memangnya ada
PR?” jawabku dengan lantang.
“Memangnya kamu tidak ingat ya? Tadi
kan pak guru bilang. Ia menyuruh kita untuk mengerjakan
soal di LKS halaman 30.” Jawab Shela.
“Apa tidak sebaiknya dikerjakan di
rumah saja?” menjawab dengan nada kecewa.
“Tidak! Pokoknya kita harus kerja
kelompok sekarang juga.” Jawab Shela dengan lantang.
“Ya sudah.” Jawabku dengan nada
menyerah.
Aku memang hanya bisa mengalah saat
Shela sudah banyak maunya. Apalagi kalau masalah pelajaran, dia selalu ngotot
ingin kerja kelompok denganku. Memang, seharusnya aku senang diajak kerja
kelompok bersamanya,aku bisa mendapat nilai baik karena dia merupakan salah
satu murid yang pintar di kelasnya. Tapi alasanku tak terlau suka dengan dia,
karena dia tak mengerti keadaanku. Dia tak pernah tau betapa capenya .
“Kita langsung kerumahku ya?”
tanyanya padaku.
Aku
hanya membalas pertanyaannya dengan mengangguk.
Teriknya sang mentari membuatku
makin tak bersemangat untuk belajar bersama dengan Shela. Langkahku
terkoyong-koyong ditambah dengan beban berat yang ada di pundak. Hari ini
memang setiap pelajaran harus membawa buku paket ataupun referensi lainnya.
Ditambah lagi dengan wajah cemberut yang menakutkan mirip seperti Zombie.
Sesampainya
di rumah Shela, akupun di persilahkan duduk olehnya. Rumahnya terlihat kosong.
Membuatku leluasa meluruskan kakiku yang agak pegal akibat pelajaran olahraga
tadi.
“Duduk dulu ya, akan aku ambilkan
minuman.” kata Shela.
“Iya Shel.” Jawabku.
Shela kemudian keluar dengan membawa
2 gelas es sirup. Yang membuatku tak sabar untuk membasahi tenggorokanku yang
agak kering. Dia juga membawa sepiring cookies coklat yang merupakan cemilan
kesukaanku.
“Diminum dulu.” Kata Shela.
“Iya Shel, terima kasih.” Jawabku
dengan tersenyum.
Aku
langsung menyantap keduanya dengan lahap hingga habis. Tanpa disadari, ternyata
Shela sedari tadi memandangiku dengan wajah heran dan bingung.
“Kamu lapar sekali yah?” tanyanya padaku
dengan heran.
“Heheh...” menjawab dengan terkekeh.
Waktupun menunjukkan pukul 14.00.
Kita pun memulai kegiatan kerja kelompok dengan mengeluarkan LKS dan membuka
halaman yang akan kami dikerjakan. Dua jam berlalu, setelah semua soal
terselesaikan, aku berpamitan pulang pada Shela. Dan kebetulan disitu ada ibu
Shela. Akupun langsung meraih tangan ibu Shela dan mengajaknya untuk
bersalaman.
“Saya pulang dulu ya bu?” kata ku
pada ibu Shela.
“Oh iya ndo, hati-hati yah dijalan.” jawab ibu Shela.
“Iya bu, Assalamualaikum?” kataku
padanya.
“Waalaikumsalam.” jawabnya.
Akupun bergegas meninggalkan rumah
Shela. Dengan melambaikan tanganku pada Shela menandakan hari ini aku telah
bebas dari omelan si cerewet itu. Aku tersenyum lega dan berjalan menuju pinggiran
jalan untuk menunggu bis. Dari kejauhan, terdengar suara petir yang
samar-samar. Namun, aku dapat mendengarnya dengan jelas. Ini menandakan akan
hujan deras. Rintik-rintik hujan pun membasahi jalanan yang berdebu. Aku segera
berpindah ke tempat yang lebih teduh. Hujan semakin deras, itu membuatku sangat
kesal dan memasang wajah cemberut.
Saat itu juga, tiba-tiba handphone
ku bergetar. Akupun segera merogoh saku dan melihat siapa yang telah
mengirimkan pesan. Ternyata pesan dari ibuku. Ia mengatakan bahwa di rumahku
hujan deras. Sejenak, aku berfikir. Aku harus segera membalas pesan ini, dan
tiba-tiba handphone ku mati karena baterainya habis.
Klakson bus terdengar di telingaku. Ya
benar, bus tersebut sudah berada di hadapanku. Langkah kaki ku tergerak untuk
menaiki setiap tangga yang ada di bus. Bus terasa sesak sekali. Akupun terpaksa
berdiri dan berusaha menyeimbangkan badan agar tidak jatuh. Kebetulan aku
berdiri di samping seorang bapak yang sedang merokok. Aku benci sekali dengan
rokok. Itu membuatku bergeser sedikit menjauhi si bapak tadi.
Tapi bus terlalu sesak, akupun hanya
bisa menghela napas dan menutup hidup agar terhindar dari asap rokok tersebut.
Hingga bus melaju dengan kencang. Sang kondektur mulai menariki uang kepada
para penumpang. Aku mengambil uang yang ada di dalam sakuku, aku berharap yang
aku ambil adalah uang Rp 1000, tapi ternyata dugaanku salah aku mengambil uang
sebesar Rp 2000. Dan itu adalah uang terakhirku. Sang kondektur mulai kesal
menungguiku yang sedari tadi tak lekas membayar ongkos dan menampakkan wajah
bingung.
“Mbak.. ayo cepat mana ongkosnya?”
tanya sang kondektur dengan kesal.
Aku tersentak kaget saat si
kondektur bertanya padaku. Aku langsung menyodorkan uang Rp 2000 kepadanya dan
tak peduli apa sebenarnya yang tadi ia katakan. Tiba-tiba sang kondektur
bergegas pergi menariki ongkos penumpang yang lain. Tak mengembalikan uang Rp
1000 yang seharusnya sebagai kembalian. Dan akhirnya aku harus merelakan uang
tersebut dengan seikhlas-ikhlasnya. Itu alasanku mengapa aku tak suka membayar
ongkos bis dengan uang Rp 2000, karena pasti sang kondektur tidak mengembalikan
uangnya yang harusnya sebagai kembalian.
“5 menit lagi aku sampai di rumah.”
celetuk ku sambil memandangi jam yang kupakai dengan
wajah yang sumringah.
Seperti biasa, aku harus menelpon
atau mengirim pesan kepada ibu. Agar beliau menjemputku. Saat mengeluarkan
handphone, aku baru sadar jika handphoneku mati. Sore ini, aku putuskan untuk
berjalan kaki sampai di rumah. Hujan masih cukup deras, membuat seragam dan
sepatuku basah. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh adikku. Aku sudah tak
peduli dengannya. Aku langsung memasuki kamar dan adikku berusaha untuk
membuntutiku dan ikut masuk kedalam kamar. Tapi, aku menolaknya. Aku langsung
memarahinya dan itu membuatnya meneteskan airmata. Aku sungguh sudah tak peduli
lagi akan hal itu. Aku benci hari ini.
Malam ini, aku tak makan malam
bersama dengan keluarga. Aku tak terlalu lapar. Aku lebih memilih
mentelentangkan badanku yang sudah tak kuat memopang beban berat. Sejenak aku melihat jam dinding. Ternyata, jam
menunjukkan pukul 22.00. Perutku yang keroncongan menuntunku untuk keluar dari
kamar dan menuju ruang makan. Sesaat sebelum aku sampai di ruang makan. Aku
melewati ruang tidur adikku. Tak tau mengapa, langkahku berjalan masuk ke arah
tempat tidur adikku. Aku melihatnya tertidur lelap dan membuatku berfikir
sejenak.
“Aku memang sangat bodoh.” kataku
dalam hati.
Aku sangat menyesal akan kejadian
tadi. Aku memarahi adikku yang tak bersalah. Ia bahkan rela menungguiku
berjam-berjam untuk menanti kedatanganku. Tapi, aku membalasnya dengan hal yang
sangat bodoh. Aku segera meninggalkan kamar tidurnya dan berjalan berbalik
arah. Dan berkata dalam hati, “Maafkan aku ya de..”
Aku memang sangat bodoh. Aku telah
memiliki waktu di rumah hanya beberapa jam saja. Tapi, aku hanya
memanfaatkannya dengan hal-hal yang bodoh, dengan hal-hal yang seharusnya tidak
aku lakukan. Hingga kini, aku baru sadar betapa berharganya waktu. Waktu yang
menuntun kita menjadi seperti sekarang. Orang kaya tak bisa kaya tanpa waktu.
Seorang murid tak bisa pintar tanpa waktu.Waktu tidak dapat dibalikkan dan
tidak dapat digantikan. Jika, kita menyia-nyiakan waktu berarti sama saja kita
menyia-nyiakan kehidupan. Time is Life ^0^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar