Senin, 23 Maret 2015

Time is Life


TIME IS LIFE
Tetttt. Tetttt. Tettttttt
            Bel pulang berbunyi menandakan siswa-siswi dapat pulang ke rumah masing-masing. Akupun segera membereskan buku dan peralatan tulis yang berserakan dimeja untuk dimasukkan ke tas. Seperti biasa, saat bel pulang sekolah wajahku terlihat sumringah karena ingin cepat-cepat sampai di rumah dan segera mentelentangkan tubuhku di tempat tidur. Seketika itu, Shela teman sebangkuku tiba-tiba bertanya padaku.
            “Eh, hari ini kerja kelompok ya?” tanya Shela
            “Hah? Kerja kelompok? Memangnya ada PR?” jawabku dengan lantang.
            “Memangnya kamu tidak ingat ya? Tadi kan pak guru bilang. Ia menyuruh kita untuk        mengerjakan soal di LKS halaman 30.” Jawab Shela.
            “Apa tidak sebaiknya dikerjakan di rumah saja?” menjawab dengan nada kecewa.
            “Tidak! Pokoknya kita harus kerja kelompok sekarang juga.” Jawab Shela dengan lantang.
            “Ya sudah.” Jawabku dengan nada menyerah.
            Aku memang hanya bisa mengalah saat Shela sudah banyak maunya. Apalagi kalau masalah pelajaran, dia selalu ngotot ingin kerja kelompok denganku. Memang, seharusnya aku senang diajak kerja kelompok bersamanya,aku bisa mendapat nilai baik karena dia merupakan salah satu murid yang pintar di kelasnya. Tapi alasanku tak terlau suka dengan dia, karena dia tak mengerti keadaanku. Dia tak pernah tau betapa capenya  .
            “Kita langsung kerumahku ya?” tanyanya padaku.
Aku hanya membalas pertanyaannya dengan mengangguk.
            Teriknya sang mentari membuatku makin tak bersemangat untuk belajar bersama dengan Shela. Langkahku terkoyong-koyong ditambah dengan beban berat yang ada di pundak. Hari ini memang setiap pelajaran harus membawa buku paket ataupun referensi lainnya. Ditambah lagi dengan wajah cemberut yang menakutkan mirip seperti Zombie.
Sesampainya di rumah Shela, akupun di persilahkan duduk olehnya. Rumahnya terlihat kosong. Membuatku leluasa meluruskan kakiku yang agak pegal akibat pelajaran olahraga tadi.
            “Duduk dulu ya, akan aku ambilkan minuman.” kata Shela.
            “Iya Shel.” Jawabku.
            Shela kemudian keluar dengan membawa 2 gelas es sirup. Yang membuatku tak sabar untuk membasahi tenggorokanku yang agak kering. Dia juga membawa sepiring cookies coklat yang merupakan cemilan kesukaanku.
            “Diminum dulu.” Kata Shela.
            “Iya Shel, terima kasih.” Jawabku dengan tersenyum.
Aku langsung menyantap keduanya dengan lahap hingga habis. Tanpa disadari, ternyata Shela sedari tadi memandangiku dengan wajah heran dan bingung.
            “Kamu lapar sekali yah?” tanyanya padaku dengan heran.
            “Heheh...” menjawab dengan terkekeh.
            Waktupun menunjukkan pukul 14.00. Kita pun memulai kegiatan kerja kelompok dengan mengeluarkan LKS dan membuka halaman yang akan kami dikerjakan. Dua jam berlalu, setelah semua soal terselesaikan, aku berpamitan pulang pada Shela. Dan kebetulan disitu ada ibu Shela. Akupun langsung meraih tangan ibu Shela dan mengajaknya untuk bersalaman.
            “Saya pulang dulu ya bu?” kata ku pada ibu Shela.
            “Oh iya ndo, hati-hati yah dijalan.” jawab ibu Shela.
            “Iya bu, Assalamualaikum?” kataku padanya.
            “Waalaikumsalam.” jawabnya.
            Akupun bergegas meninggalkan rumah Shela. Dengan melambaikan tanganku pada Shela menandakan hari ini aku telah bebas dari omelan si cerewet itu. Aku tersenyum lega dan berjalan menuju pinggiran jalan untuk menunggu bis. Dari kejauhan, terdengar suara petir yang samar-samar. Namun, aku dapat mendengarnya dengan jelas. Ini menandakan akan hujan deras. Rintik-rintik hujan pun membasahi jalanan yang berdebu. Aku segera berpindah ke tempat yang lebih teduh. Hujan semakin deras, itu membuatku sangat kesal dan memasang wajah cemberut.
            Saat itu juga, tiba-tiba handphone ku bergetar. Akupun segera merogoh saku dan melihat siapa yang telah mengirimkan pesan. Ternyata pesan dari ibuku. Ia mengatakan bahwa di rumahku hujan deras. Sejenak, aku berfikir. Aku harus segera membalas pesan ini, dan tiba-tiba handphone ku mati karena baterainya habis.
            Klakson bus terdengar di telingaku. Ya benar, bus tersebut sudah berada di hadapanku. Langkah kaki ku tergerak untuk menaiki setiap tangga yang ada di bus. Bus terasa sesak sekali. Akupun terpaksa berdiri dan berusaha menyeimbangkan badan agar tidak jatuh. Kebetulan aku berdiri di samping seorang bapak yang sedang merokok. Aku benci sekali dengan rokok. Itu membuatku bergeser sedikit menjauhi si bapak tadi.
            Tapi bus terlalu sesak, akupun hanya bisa menghela napas dan menutup hidup agar terhindar dari asap rokok tersebut. Hingga bus melaju dengan kencang. Sang kondektur mulai menariki uang kepada para penumpang. Aku mengambil uang yang ada di dalam sakuku, aku berharap yang aku ambil adalah uang Rp 1000, tapi ternyata dugaanku salah aku mengambil uang sebesar Rp 2000. Dan itu adalah uang terakhirku. Sang kondektur mulai kesal menungguiku yang sedari tadi tak lekas membayar ongkos dan menampakkan wajah bingung.
            “Mbak.. ayo cepat mana ongkosnya?” tanya sang kondektur dengan kesal.
            Aku tersentak kaget saat si kondektur bertanya padaku. Aku langsung menyodorkan uang Rp 2000 kepadanya dan tak peduli apa sebenarnya yang tadi ia katakan. Tiba-tiba sang kondektur bergegas pergi menariki ongkos penumpang yang lain. Tak mengembalikan uang Rp 1000 yang seharusnya sebagai kembalian. Dan akhirnya aku harus merelakan uang tersebut dengan seikhlas-ikhlasnya. Itu alasanku mengapa aku tak suka membayar ongkos bis dengan uang Rp 2000, karena pasti sang kondektur tidak mengembalikan uangnya yang harusnya sebagai kembalian.
            “5 menit lagi aku sampai di rumah.” celetuk ku sambil memandangi jam yang kupakai        dengan wajah yang sumringah.
            Seperti biasa, aku harus menelpon atau mengirim pesan kepada ibu. Agar beliau menjemputku. Saat mengeluarkan handphone, aku baru sadar jika handphoneku mati. Sore ini, aku putuskan untuk berjalan kaki sampai di rumah. Hujan masih cukup deras, membuat seragam dan sepatuku basah. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh adikku. Aku sudah tak peduli dengannya. Aku langsung memasuki kamar dan adikku berusaha untuk membuntutiku dan ikut masuk kedalam kamar. Tapi, aku menolaknya. Aku langsung memarahinya dan itu membuatnya meneteskan airmata. Aku sungguh sudah tak peduli lagi akan hal itu. Aku benci hari ini.
            Malam ini, aku tak makan malam bersama dengan keluarga. Aku tak terlalu lapar. Aku lebih memilih mentelentangkan badanku yang sudah tak kuat memopang beban berat. Sejenak  aku melihat jam dinding. Ternyata, jam menunjukkan pukul 22.00. Perutku yang keroncongan menuntunku untuk keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Sesaat sebelum aku sampai di ruang makan. Aku melewati ruang tidur adikku. Tak tau mengapa, langkahku berjalan masuk ke arah tempat tidur adikku. Aku melihatnya tertidur lelap dan membuatku berfikir sejenak.
            “Aku memang sangat bodoh.” kataku dalam hati.
            Aku sangat menyesal akan kejadian tadi. Aku memarahi adikku yang tak bersalah. Ia bahkan rela menungguiku berjam-berjam untuk menanti kedatanganku. Tapi, aku membalasnya dengan hal yang sangat bodoh. Aku segera meninggalkan kamar tidurnya dan berjalan berbalik arah. Dan berkata dalam hati, “Maafkan aku ya de..”
            Aku memang sangat bodoh. Aku telah memiliki waktu di rumah hanya beberapa jam saja. Tapi, aku hanya memanfaatkannya dengan hal-hal yang bodoh, dengan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Hingga kini, aku baru sadar betapa berharganya waktu. Waktu yang menuntun kita menjadi seperti sekarang. Orang kaya tak bisa kaya tanpa waktu. Seorang murid tak bisa pintar tanpa waktu.Waktu tidak dapat dibalikkan dan tidak dapat digantikan. Jika, kita menyia-nyiakan waktu berarti sama saja kita menyia-nyiakan kehidupan. Time is Life  ^0^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar