PERJALANAN HIDUP
SI PENGAMEN CILIK
Malam
yang sunyi, tak seorangpun yang menemani. Hanya suara jangkrik yang setia
datang saat malam tiba. Aku hanya mentelentangkan tubuhku di atas tikar yang
sudah rusak entah mengapa. Memandang ke atas melihat atap genting yang sudah bocor
terhempas hujan dan angin. Serta lampu yang memancarkan cahaya kuningnya tepat mengenai kedua bola mataku. Membuat
suasana semakin senyap. Seketika itu, aku melirikkan mataku pada sebuah
kalender kusut yang aku gantung di depan lemari pakaianku. Mengangkat tangan
kananku dan menujuk ke salah satu tanggal dengan jari telunjukku.
“2 hari lagi, genap 5 tahun aku tinggal tanpa bapak di
rumah tua ini” .
Aku
menelan ludah. Merasakan pahitnya kehidupan ini. Ada keinginan untuk merubah
semuanya. Tapi tak mungkin, aku tak berpendidikan dan tak punya keahlian
apapun. Suasana yang sunyi. Membuat akupun sejenak melupakan ambisiku dan
tertidur lelap dengan ditemani suara jangkrik yang mengalun.
Sang
mentari mulai muncul dari ufuk timur. Memancarkan sinarnya menembus rumah tua.
Sinarnya tepat mengenai wajahku yang kusut, Aku terbangun dan segera melipat
kembali tikar yang kupakai sebagai alas tidur. Bersiap-siap seperti biasanya
mengamen di pinggir jalan. Saat akan berangkat, terdengar langkah kaki dan
suara alat musik yang biasa aku pakai untuk mengamen. Dengan refleks wajahku menoleh
mencari sumber suara itu.
“Hei,
Eko. Tunggu.” aku berlari mengejar sosok laki-laki itu.
“Eh,
kamu. Baru berangkat ya?” bertanya dengan rasa penasaran.
“Iya nih
ko, aku tadi kesiangan. Ya sudah kita berangkat sekarang saja.” sambil menarik tangan Eko.
“Eh iya,
ayo.” berlari tergopoh-gopoh.
Lampu
merah terlihat dari arah jauh. Pertanda lalu lintas sudah berjalan seperti
biasanya. Aku dan Eko menuju tempat dimana aku mencari perhatian orang.
Berharap mereka mengasihani aku dengan memberikan uang receh. Sesaat langkahku
terhenti melihat sosok laki-laki membawa tas. Sosok itu, sangat mirip dengan
orang yang pernah aku kenal. Ya, bapakku. Aku segera berlari mengejar sosok lelaki
itu, tapi terhadang oleh badan Eko.
“Hei,
mau kemana kamu?” tanya Eko kepadaku.
“Anu eh
eh” menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata.
“Ayo
cepat, kendaraan sudah berlalu lalang. Nanti terburu yang lain.” teriak dan
berlari.
Akupun mengangguk dan seketika itu mataku melirik ke arah
sosok tadi yang berjalan. Ternyata bayangannya sudah lenyap dari mataku.
“Ah,
sudahlah. Lupakan” berkata dalam hati.
Seperti biasa, aku mengamen di pinggiran jalan dengan
semangat. Menyanyikan lagu yang selalu dinyanyikanku saat mengamen.
“Cita-citaku
menjadi orang kaya. Dulu ku susah sekarang alhamdulillah. Bersyukurlah pada
Yang Maha Kuasa. Memberi jalan untukku semua.” bernyanyi dengan penuh semangat.
Eko pun meneruskan lirik lagu yang sedang kunyanyikan.
“Hidupku
dulunya seorang pengamen. Pulang malam selalu bawa uang recehan. Mengejar cita-cita paling mulia. Membantu
keluarga di rumah.”
Dengan
membawa sekantong bungkus permen yang telah kosong. Satu per satu kendaraan ku
hampiri . Dengan penuh harap, mereka mau memberi uang receh. Aku melanjutkan
untuk bernyanyi. Tak mempedulikan suaraku yang pantas didengar atau tidak. Yang
terpenting, aku dapat membawa pulang segenggam uang receh yang tak tentu
hasilnya seberapa.
Terik matahari yang sudah akan lenyap di ufuk barat.
Memutuskanku untuk pulang ke rumah.
“Eko,
ayo kita pulang. Hari sudah sore!” bertanya pada Eko.
“Kamu
pulang dulu saja, aku masih ingin mengamen disini.” jawab Eko.
“Tapi,
ini sudah sore ko. Suasana malam berbahaya untuk mengamen.” Nasehatku.
“Tidak,
ah. Aku bisa jaga diri.” Jawab Eko dengan mantap.
“Ayo,
cepat. Sebelum para preman datang merampas semua hasil keringat kita.” menarik tangan Eko,
“Aku
tidak apa-apa, aku janji aku akan pulang sebelum para preman itu datang.” berkata sambil melepaskan tangannya dari
genggamanku.
“Ya
sudah, hati-hati yaaa ?!?” melambaikan tanganku ke arah Eko.
“Iya ,
kamu juga yaa.. hati-hati di jalan” membalas lambaian tanganku.
“Iya
sipp!” mengacungkan jari jempol ke arah Eko.
Eko pun hanya membalas dengan senyumnya.
Aku pun
berjalan. Langkah yang semangat menyusuri rerumputan yang kekuning-kuningan
tersorot teriknya mentari di sore hari. Dengan membawa sekantong bungkus
plastik permen yang didalamnya terdapat beberapa receh uang logam yang hasilnya
sudah dibagi dua dengan Eko. Rumah tua yang terlihat kejauhan membuatku tak
sabar ingin bertemu dengan sesosok malaikat yang selalu menjagaku.
“Assalamu
alaikum, bu ?” sapaku dengan nada ramah.
“Waalaikum
salam, nak.” balasnya dengan senyum manis.
Aku meraih tangan ibu, dan memeluknya.
“Ini bu,
hasil mengamen aku tadi. Tak terlalu banyak. Tapi yah cukuplah untuk makan malam hari ini bersama.” kata ku.
“Nak,
sebaiknya kamu tidak usah mengamen. Ibu khawatir terjadi apa-apa di luar sana. Biar ibu saja yang bekerja.” kata ibu.
“Tidak
apa-apa bu, aku bisa kok jaga diri.” jawabku sambil memandang wajah ibu.
“Tapi
nak....?” ujar ibu.
“Sudahlah
bu, tidak apa-apa. Lama-lama aku juga terbiasa.” jawabku dengan mantap.
“Sebelumnya,
ibu minta maaf ya nak. Ibu belum bisa menyekolahkan kamu. Tapi, ibu janji. Suatu saat, kalau ibu sudah punya
rezeki. Ibu janji akan menyekolahkan kamu seperti
layaknya teman-teman seumuranmu.” kata ibu.
“Iya bu,
aku juga akan menabung untuk biaya tambahan sekolah.” jawabku.
Aku
memandangi wajah ibu. Menatap matanya. Merasakan kehangatan kasih sayangnya
yang tak pernah putus. Terus mengalir seperti sungai. Dan seketika itu, aku
memeluknya. Menangis di pelukannya. Ingin rasanya membuat dia bahagia. Membuat
dia bangga mempunyai anak seperti aku yang hanya seorang pengamen jalanan. Dan
sempat terlintas di fikiranku. Dalam hatiku berkata,
“Semoga
dia tak pernah menyesal telah melahirkanku”.
Ibu pun melepaskan
pelukannya dan mengusap air mataku dengan penuh kasih sayangnya. Ia mengajak
untuk makan malam bersama dan melepas lelah. Setelah selesai makan malam,
seperti biasa aku mengambil tikar dan menggelarnya sebagai alas tidur. Tidak
seperti biasanya, kali ini aku tak bisa tidur. Dinaungi oleh bayangan sosok
lelaki yang mirip bapakku. Ya, bapakku telah meninggal 2 tahun silam.
Ia
meninggal karena penyakit jantung sewaktu aku masih berumur tahun. Ibu sempat menikah lagi, dengan
seorang buruh yang bekerja di salah satu pabrik di kota. Tapi, sekarang aku dan
ibu tak pernah tau dimana keberadaan bapak tiriku. Rasanya kurang lengkap dalam
keluarga tanpa kehadiran seorang bapak. Tak terasa mataku sudah tak tahan
membendung air mata ini. Dan aku memutuskan untuk memenjamkan mata dan menyapa
hari esok.
“Kukuruyukkkk....”
Terdengar
kokokan ayam, pertanda pagi telah tiba. Aku mengangkat badanku dari tikar
kusut. Rasanya badan ini sangat lelah, akibat kemarin seharian bekerja. Tapi,
tak mumutuskan semangatku untuk pergi mengamen kembali.
“Nak,
ibu berangkat dulu ya..” kata ibu.
“Iya bu,
hati-hati dijalan ya bu..” jawabku.
“Iya..nak”.
melambaikan tangan ke arahku.
Tak
terasa bayangan ibu, sudah lenyap dan tak terlihat dari sudut rumahku. Ibuku
harus berangkat awal pagi ini, karena hari ini adalah jadwal keberangkatan kereta
api Argobromo yang ditumpangi para pekerja yang hendak pulang ke kampung
masing-masing. Ia juga melakukan kegiatan yang sama sepertiku. Yaitu mengamen.
Dan saat itulah, terlintas di benakku. Teringat akan
nasehat ibu yang ia katakan saat aku tertidur lelap di sampingnya. Aku tak
sengaja mendengar nasehat itu. Ia mengatakan.
“Kamu
tidak boleh seperti ibu, nak. Yang kerjanya hanya minta-minta. Kamu harus mengangkat derajat keluarga kita
dengan prestasimu. Dengan cita-citamu. “
Aku
sangat ingin mewujudkan nasehat ibu. Aku juga ingin membuktikan kalau aku bisa
mewujudkannya. Tapi, apa daya keadaan ekonomi yang terbatas membuat aku pesimis
akan ambisiusku yang kuat.
“Hei..
kak. Jangan melamun terus. Tidak baik loh!” kata adikku dari arah belakang.
“Eh..
kamu rul. Kakak tidak melamun kok.” Jawabku.
“Kakak
bisa saja alasannya. Buktinya, sedari tadi kakak memandangi ibu yang akan berangkat bekerja.” ledek Nurul.
“Ah
sudahlah rul. Kakak mau berangkat dulu. Nanti kesiangan.” ujar ku sambil
berdiri dari kursi.
“Ya
sudah kak. Hati-hati yah.” kata Nurul.
“Assalamu
alaikum . .” berlari sambil mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam
. .” Nurul menjawab salamku.
Sesampainya
di pinggir jalan, tak seperti biasanya lalu lintas sangat sepi entah apa yang
terjadi. Hari ini, Eko tak terlihat di tempat biasa mengamen. Akupun melihat
sekerumunan anak jalanan yang juga teman-temanku. Dengan rasa penasaran akupun
segera menghampiri mereka.
“Eh,
kalian lihat Eko tidak? Aku sudah cari dia kemana saja tapi tidak ketemu. Atau
dia pindah tempat mengamen ya?”
tanyaku.
“Eko
yang mana sih?” jawab salah satu dari mereka.
“Itu
lho, Eko yang biasa berangkat mengamen bersama denganku.” Jawabku.
“Oh, si
Eko. Sepertinya dia sedang sakit, memangnya kamu tidak tahu ya?” menjelaskan dan bertanya kepadaku.
“Sakit?
Aku tidak tahu.” Jawabku dengan wajah cemberut.
“Iya,
sakit demam.” Jelasnya.
“Oh ya
sudah. Thanks yah. Sudah memberi tahu.” Mengucapkan terima kasih padanya.
“Iya
sama-sama.” Membalasnya dengan wajah tersenyum.
Dengan
ditemani terik mentari, kali ini aku mengamen sendiri. Tanpa Eko. Rasanya sepi
tak ada canda tawa yang menyelimuti. Akupun tetap mengamen hingga terhenti pada
salah satu mobil mewah. Seperti biasa aku menyanyikan lagu kebanggaanku dengan
diiringi alat musik yang terbuat dari tutup botol. Serta membawa sebungkus wadah
permen.
Hingga
kaca mobil yang tadinya gelap tertutup kaca film. Kini terbuka, dan aku dapat melihat
dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil. Ternyata seorang laki-laki berjas
hitam, gagah, dan terlihat berwibawa. Tiba-tiba dia bertanya padaku. Dan
memegang pundakku. Aku tersentak kaget.
“Ade,
namanya siapa? Rumahnya dimana?” tanyanya dengan penuh penasaran.
“Nama
saya Iwan pak, rumah saya ada di Jl.Melati No.5, pak.” jawabku dengan ragu- ragu.
“Sekolah
dimana de?” tanya sang Bapak kembali.
“Maaf
pak, saya tidak sekolah. Saya mengamen untuk membantu ibu saya.” menjawab dengan mantap.
“Oh begitu,
tapi kamu punya bakat yang luar biasa, de.” Puji Bapak kepadaku.
“Bakat?
Saya tidak punya bakat apa-apa pak, saya hanyalah pengamen jalanan yang kerjanya hanya minta-minta.” Jelasku.
“Tidak,
de. Kamu punya talenta dan suara yang bagus. Dan itu membuat saya kagum terhadapmu.” Pujinya kembali.
“Terima
kasih, pak.” Mengucapkan terima kasih dengan wajah tersenyum.
“Ini de,
saya kasih kamu kartu nama saya. Barangkali kamu butuh bantuan saya. Kamu bisa menelpon nomor yang tertera di kartu itu.”
Tersenyum sambil memberi sebuah kartu
nama kepadaku.
Tinnnnn.Tinnnnn.Tinnnnnnnnn
Suara
klakson mobil dari arah belakang membuatku dan bapak itu terkejut. Mobil mewah
itupun segera meluncur dengan cepatnya. Akupun segera berpindah tempat ke
tempat yang rindang. Sempat memandang mobil itu, tapi mataku mengalihkan
pandangan pada sebuah kartu nama yang sekarang ada di tangan kananku. Tertulis
nama SUDIRMAN sebagai Produser Perfilman di Jakarta. Aku terkejut saat
membacanya, aku mengira tadi adalah mimpi. Mimpi bertemu dengan orang terkenal
yang sangat berjasa di dunia perfilman.
Aku
berlari pulang. Aku sudah tak sabar ingin memberi tahu ibu tentang percakapan
aku dengan bapak tadi. Tak menghiraukan apakah ini masih pagi, siang, ataupun
sore. Mengabaikan berapa hasil yang kudapat hari ini di kantong plastik permen.
Berlari dengan rasa bahagia, dihiasi dengan senyuman. Melangkah dengan diiringi
kicauan burung dan teriknya sang mentari yang menyengat. Tak membuatku terhenti
untuk melangkahkan kaki ini.
Dari kejauhan terlihat ibu yang ternyata sudah pulang dan
sedang duduk bersama Nurul.
“Ibuuuuuuu..........
aku senang sekali hari ini.” memeluk ibu sambil berlari.
“Hei...hei..
ada apa ini wan? Kok kamu girang sekali seperti ini?” tanya ibu.
“Itu bu,
tadi aku...ehh...tadi aku ..aaaaaaaa!!” teriak sambil meloncat-loncat.
“Tadi
apa kak? Ayolah cepat. Tak usah banyak teriak-teriak.” kesal Nurul.
“Tadi
aku bertemu dengan Pak Sudirman.” Jawabku dengan penuh semangat.
“Pak
Sudirman siapa kak? Rasanya aku baru pernah mendengar nama itu.” jawab Nurul.
“Itu lho
de, bu. Produser Perfilman yang terkenal di Jakarta.” jelasku kepada mereka.
“Oh itu,
memangnya ada apa tho ndo ?” ibu
bertanya dengan logat jawanya.
“Ini bu,
aku dikasih kartu nama ini. Disini tertera nomor teleponnya. Tadi, ia
mengatakan jika kita butuh bantuannya.
Kita bisa menelpon ke nomor ini, bu.” jelasku.
“Oalah ndo, itu hanya merepotkan orang lain.
Lagian kan, Pak Sudirman di Jakarta juga banyak
kerjaan. Jadi, tak mungkin beliau meluangkan waktu untuk kita.” jawab ibu.
“Tapi.....bu”
tolak ku.
“Sudahlah
ndo, kita juga tak punya telepon
untuk menghubungi nomor ini.” jelas ibu dengan
menunjuk ke nomor telepon yang tertera di kartu nama.
“Ya
sudahlah bu, sebaiknya aku simpan saja kartu nama ini.” menjawab dengan muka cemberut.
Aku
sedikit tak puas dengan respon yang ibu katakan tadi mengenai kartu nama itu.
Tapi, memang ada benarnya juga apa yang dikatakan ibu. Pak Sudirman bukan orang
yang sembarangan. Beliau orang yang terkenal. Beliau juga pasti sibuk mengurusi
produksi film terbaru dan tak mungkin masih ingat aku. Aku bukan siapa-siapa.
Aku terlihat sangat kecil dimata beliau. Sudahlah tak usah bermimpi tinggi.
Memang benar apa yang dikatakan oleh ibu.
Dalah hatiku berkata, “Terima kasih ibu, kau telah
menyadarkanku dari dunia impian khayalku yang tak mungkin terjadi dan tak harus
terjadi.”
Tetesan embun pagi menyelimuti rerumputan yang hijau.
Hilir mudik kendaraan dengan asapnya
yang mengotori udara siang hari. Membuatku dan Eko sudah tak ingin berlama-lama
di tempat ini. Suasana makin menyengat bak air yang sedang direbus. Aku
menyenggol siku Eko saat melihat seorang penjual koran yang mengelilingi satu
per satu mobil yang berhenti.
“Koran.....koran....korannya pak,
bu.” Si penjual koran menawarkan korannya kepada pengemudi kendaraan.
Meski
tak ada yang tertarik dengan koran jualannya. Namun, ia tetap bersemangat
menawarkan dagangannya. Saat itu juga, aku terheran-heran dan bertanya pada
Eko.
“Ko, kamu tau tidak? Pemuda itu?”
tanyaku pada Eko.
“Pemuda yang mana wan? Penjual koran
itu?” jawab Eko dengan ragu.
“Iya, penjual koran itu. Kamu pernah
melihat sebelumnya tidak? Rasanya wajah itu sangat
asing di mataku.” tanyaku dengan mengerutkan dahi.
“Iya, aku juga tak pernah melihatnya
di pinggiran jalan ini. Mungkin dia berpindah tempat
berjualan.” Jelas Eko.
“Oh begitu ya..” dengan wajah
melongo.
Sang pemuda tersebut, terus
menawarkan barang dagangannya. Karena ia merasa tak ada yang berminat untuk
membeli koran-korannya, sang pemuda itu menambah kata-katanya dengan
mempromosikan berita yang ada di dalam koran.
“Korannya
pak, bu. Ada berita baru, Iwan si pengamen cilik. Mengunggah video mengamennya ke youtube dan dilihat oleh
1.333.000 orang. Ayoo...beli korannya pak ?!”
menawarkan dengan penuh semangat dan berharap ada yang melirik dagangannya.
Aku tak sengaja mendengar namaku dipanggil-panggil oleh
si pemuda tersebut. Aku makin penasaran dan membisikkan sesuatu pada Eko.
“Eh, ko. Kamu dengar tidak? Namaku
dipanggil-panggil pemuda itu.” Tanyaku padannya.
“Eh, iya. Aku juga dengar itu.”
Jawabnya dengan pelan.
“Memangnya apa yang diberitakan?”
“Aku sih tak terlalu mendengarnya
dengan jelas.” kata Eko
“Oh...ya sudah”. aku
mengangguk-angguk.
Tak
disadari, sang pemuda penjual koran tiba-tiba menghampiri aku dan Eko.
“De..korannya de..” tawarnya
Tiba-tiba,
sang pemuda itu terkejut saat melihatku dan Eko. Dan sekilas melihat ke arah koran
yang dijualnya.
“Hei..kamu Iwan. Iwan si pengamen
cilik yang mengunggah video di youtube itu?” kata
si penjual koran dengan memegangi pundakku.
Semua orang yang sedang menunggu
munculnya lampu hijau. Tiba-tiba matanya tertuju ke arahku yang sedang
kebingungan. Mereka semua benar-benar melihat ke arahku. Mungkin gara-gara sang
penjual koran itu terlalu keras menyebutkan namaku. Tapi, aku sungguh masih tak
mengerti apa yang dimaksud pemuda itu.
“Maksudnya apa ya mas? Saya tidak
mengerti!” jawabku dengan wajah bingung.
“Lihat ini!” sang pemuda menyodorkan
korannya kearahku dan Eko.
Ternyata
di situ terdapat fotoku yang terlihat sedang bernyanyi dengan pakaian yang
kumal. Dan ternyata videoku saat mengamen diunggah ke youtube. Aku sungguh
masih tak mengerti apa maksud berita ini. Tiba-tiba. aku teringat pada kartu
nama itu. Ya, pak Sudirman. Tanpa sadar, tanganku merogoh saku celana dan
mengambil kartu nama itu di dalamnya. Kartu nama itu sekarang sudah berada di
tangan kananku. Eko dan si penjual koran terheran-heran apa yang sedang aku
lakukan dan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Akupun mengalihkan pandangan
kembali pada benda yang berada di tangan kananku.Ya, koran.
Dan
ternyata, nama pak Sudirman dan nomor teleponnya tertera di dalam koran itu.
Aku tak percaya akan hal ini. Dan segeralah aku mencocokkan nama dan nomor
telepon yang ada di kartu nama dengan yang di koran. Aku terkejut saat keduanya
sama persis. Eko pun tak kalah ingin tahu. Ia segera merebut koran itu dari
tangan kananku. Dan melihat foto itu dengan serius dan benar-benar sangat
mengamati fotoku. Meyakinkan bahwa itu adalah fotoku. Ternyata pandangannya
mengatakan benar bahwa itu adalah fotoku. Eko langsung melirikkan pandangannya
padaku dan bertanya padaku dengan diselimuti rasa haru dan gembira.
“Hahh? Iwan
kamu? Iwan si pengamen cilik?.” Eko bertanya padaku dengan rasa penasaran.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar