Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Berharap kau pun tak pernah menyesal mengenalku. Mari kita menjelajahi dunia khayalan dengan mengawali, mengubah dan mengakhiri cerita semau kita seperti pada dongeng-dongeng khayalan.
Minggu, 14 Desember 2014
Absurd
Supel dan Sederhana. Mungkin dua kata itu yang mampu aku gambarkan darinya. Penuh imajinasi dan kepolosannya yang membuat aku terkagum-kagum padanya. Sepasang mata mungkin menangkapnya sebagai seseorang yang biasa-biasa saja, tak tampak wajah rupawan daripadanya. Namun entah mengapa aku melihatnya tak lagi dari luar, aku lebih melihat bagaimana cara dia berkomunikasi dengan yang lain dan aku benar-benar menemukan sisi lain yang ada di dalam dirinya yang tidak aku temukan pada diri teman lelakiku yang lain. Banyak hal yang aku dapat darinya, aku seolah menemukan secercah cahaya dalam kegelapan. Aku tidak tau secara jelas ini perasaan apa, namun yang sangat au sayangkan, aku baru mengenalnya sekarang. Tapi tak apa aku sangat beruntung masih dapat mengenalmu :)
Senin, 30 Juni 2014
Maret
Ah, Maret.
Bulan kebahagiaan. Kau. Iya kau. Aku rindu sosokmu yang dulu. Sosokmu 3 bulan yang lalu, iya bulan Maret. Sosokmu yang tulus dan perhatian. Ah, sudahlah jangan mengingat hal itu. Yang ada dadaku semakin sesak karena tak dapat menahan air mata yang terus ingin jatuh. Kau berbeda dari yang dulu. Aku rindu sosokmu yang dulu sungguh. Aku seperti kehilangan sosokmu yang dulu. Kemana kau yang dulu? Sungguh dari dalam hati, aku sangat rindu. Aku tak tau kemana perginya sosokmu yang dahulu. Tak seperti sekarang, kau dingin dan tak seperhatian dulu. Kau selalu menampakkan wajahmu yang acuh tak acuh di depanku. Aku berusaha memalingkan muka dan tak menatapmu, aku merasakan sakit yang amat sungguh. Itu bukan kau! bukan kau yang dulu! Tapi apa daya, aku mencoba menerima semuanya, mengikhlaskan kepergian sosok yang kurindukan dulu meski itu sangat sulit. Aku mencoba tegar menghadapi semuanya. Karena aku yakin sosokmu yang dulu akan hadir kembali dalam kehidupanku di waktu yang tepat.
Kamis, 26 Juni 2014
Cobalah mengerti
Aku masih sering menatapmu diam-diam;menatap tanpa sepengetahuanmu. Persis seperti dulu. Tapi bedanya sekarang kedua bola mataku hanya terhenti di titih dimana aku berada pada posisi lemah, aku tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Dulu, saat ku tak sengaja menatapmu, kau dengan sesegera mungkin memalingkan arah matamu kepadaku, seolah ada kontak batin diantara kita. Namun sekarang berbeda, kau terlihat sibuk dengan sebuah ponsel yang ada di genggaman tangamu. Ponsel itu terus kau genggam erat seperti ada sesuatu yang tak ingin kau lepaskan. Jari-jarimu juga terlihat tampak bermain diatas keypad. Sesungguhnya aku sudah mengetahui semuanya, kau kembali menghampirinya saat (ia) datang dan merebut hatimu kembali. Saat aku sedang berada di titik kecintaannya padamu. Aku hanya terdiam, membisu dan bertahan. Aku tak mengharap semuanya kembali. Tapi, aku hanya meminta kau dapat sesegera mungkin memalingkan pandanganmu kepadaku sekali ini saja agar kau lekas tahu bagaimana perasaanku saat ini. Cobalah mengerti.
Rabu, 18 Juni 2014
Empat Musim Perjalananku :"
-Deena-
Jangan
pernah memaksaku untuk tetap tinggal jika pada akhirnya kau yang akan pergi
terlebih dahulu. Aku seperti hidup dalam ketidakadilan. Aku terjebak
ketidakadilan. Dimana seorang pemain figuran hanya dibutuhkan saat seorang pemain utama
sedang menghilang sementara. Persis sepertiku. Aku bagaikan tokoh figuran yang
kamu mainkan sementara. Yang kau sayangi, cintai, kasihi namun hanya sementara.
Dan akan berakhir saat perempuanmu datang dan merebut hatimu kembali. Sebagai
seorang perempuan yang lemah aku hanya dapat diam dan bertahan. Menunggu
keajaiban datang sampai pada akhirnya kau kembali ke dalam pelukanku lagi.
Hingga pergantian musim datang, saat sungai mulai mengering dan resapan air tak
lagi tampak, saat air hujan yang tak dapat ditawar datangnya, kemudian daun
berguguran dari pohonnya hingga bunga-bunga bermekaran bersemi kembali
menampakkan dirinya. Empat musim perjalananku. Aku belum menemukan sosok yang
persis sepertimu. Sosok yang bisa membuat aku tenang hingga tersenyum tanpa
alasan. Hanya kau. Perjalanan
panjang dan waktu yang lama menggulung empat musim ini bukanlah waktu yang
mudah untuk aku bertahan. Bertahan dan memperjuangkan seseorang yang sama
sekali tak mau dipertahankan dan diperjuangkan. Mungkin orang lain akan
menganggapku bodoh. Biarlah. Biarkan mereka mengucilkanku, mengejekku, ataupun memakiku.
Sungguh mereka tak tau dan tak merasakan bagaimana rasanya di posisiku saat ini. Empat
musim yang sangat berkesan. Musim panas, musim hujan, musim gugur, dan musim semi.
Semuanya sama. Aku kehilangan dan tak menemukan kembali sosokmu yang dahulu.
Jumat, 09 Mei 2014
Heran
-Deena-
Apa yang kamu rasakan saat orang yang selalu
hadir di kehidupanmu untuk sekedar mengirim pesan singkat "selamat pagi"
"selamat malam" "udah makan belum?" menghilang dan tak lagi
hadir di kehidupanmu? Menghilang tanpa kabar dan namanya tak lagi mengintip
handphonemu setiap waktu? Heran. Ya, heran yang aku rasakan saat ini. Saat dia
mulai mengabaikanku dan tak membutuhkanku kembali. Mengabari saat ia
membutuhkanku, dan mengabaikan saat aku mulai membutuhkan dia.
Sabtu, 26 April 2014
Bersyukurlah o:)
Sebenernya semua orang itu punya bakat masing2, tinggal gimana caranya kita buat ngembangin bakat itu.
"kalo belum tau bakatnya gimana?" Itu gampang ko, kalian kudu seleksi satu2 mana aktivitas yg kalian paling suka. Nah, disitu bakat kalian.
kalo kamu udah bilang "ah, aku bakatnya apa sih?" Itu salah. Karena sebenernya Allah itu udh ngasih kelebihan kalian masing2 kok ;;))
apa sih yang kurang dari pemberian Allah ke kita selama ini? Semuanya itu cukup. Bahkan lebih.
oksigen gratis, coba bayangin aja kalo sakit dan kkurgn oksigen, hrs beli tbung oksigen kn? brp hrgnya? mhl kan?
Allah ga pernah minta kita buat bales semuanya kan? Bersyukurlah.
bahkan sebenernya rasa syukur kita ke Allah itu ga akan nyukup buat bales semua yang Ia kasih ke kita lho :o
yang bersyukur aja ga nyukup buat bales semuanya, gmn kalo yg ga bersyukur? Think again! Selamat Malam! Maaf menyampah :)
"kalo belum tau bakatnya gimana?" Itu gampang ko, kalian kudu seleksi satu2 mana aktivitas yg kalian paling suka. Nah, disitu bakat kalian.
kalo kamu udah bilang "ah, aku bakatnya apa sih?" Itu salah. Karena sebenernya Allah itu udh ngasih kelebihan kalian masing2 kok ;;))
apa sih yang kurang dari pemberian Allah ke kita selama ini? Semuanya itu cukup. Bahkan lebih.
oksigen gratis, coba bayangin aja kalo sakit dan kkurgn oksigen, hrs beli tbung oksigen kn? brp hrgnya? mhl kan?
Allah ga pernah minta kita buat bales semuanya kan? Bersyukurlah.
bahkan sebenernya rasa syukur kita ke Allah itu ga akan nyukup buat bales semua yang Ia kasih ke kita lho :o
yang bersyukur aja ga nyukup buat bales semuanya, gmn kalo yg ga bersyukur? Think again! Selamat Malam! Maaf menyampah :)
Dia masih peduli padamu :')
Dia yang terlihat cuek ataupun acuh tak acuh di depanmu bukan berarti ia tak peduli denganmu. Sungguh sebenarnya ia sangat peduli padamu.
Dia yang tak membangun percakapan denganmu, bukan berarti ia tak ada keinginan untuk bercakap denganmu, sesungguhnya dari hati kecilnya ia sangat ingin bercanda tawa denganmu, namun hanya masalah waktu yang belum tepat.
Dia yang tak mengabarimu bukan berarti dia sudah tak peduli lagi padamu, dia hanya ingin kamu mengabarinya dahulu.
Dia yang membalas pesan singkatmu tanpa emoticon bukan berarti dia tak perhatian lagi padamu, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya saat dia jenuh.
Dia yang belum mengatakan rasa sayangnya padamu, bukan berarti dia tak menyayangimu, dia hanya memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu.
Dia yang selalu dekat dengan teman perempuannya, bukan berarti dia menyukai salah satu diantara teman perempuannya, dia hanya mencuri perhatian padamu agar kamu terpancing dan menampakkan kecemburuanmu di depannya.
Dia yang selalu menyibukkan diri mengisi waktu dengan teman-temannya bukan berarti dia mengabaikanmu, namun sebenarnya ia butuh waktu untuk menghilangkan kejenuhan dengan berkumpul bersama teman-temannya.
Dia yang cenderung mengalihkan pandangan saat kau menatapnya bukan berarti ia tak ingin bertatap muka denganmu, sebenarnya ia sangat ingin menatap matamu lebih dalam. namun ia hanya tak ingin teman-temannya tau dan akan mengejeknya. Sesungguhnya tanpa sepengetahuanmu, ia selalu mengawasi dan memperhatikanmu dari kejauhan.
Dia yang menolak saat kau mengajak dan mengantarmu pulang, bukan berarti ia tak ingin menemanimu pulang, namun ia tak ingin kejadian yang tak diinginkan tertimpa padamu.
Sesungguhnya ia sangat peduli padamu, namun kau tak menyadarinya, dan terkadang kau tak dapat menahan egomu sehingga kalimat "Dia sudah tak peduli lagi padaku." terlontar dari bibir manismu.
-Deena-
Dia yang tak membangun percakapan denganmu, bukan berarti ia tak ada keinginan untuk bercakap denganmu, sesungguhnya dari hati kecilnya ia sangat ingin bercanda tawa denganmu, namun hanya masalah waktu yang belum tepat.
Dia yang tak mengabarimu bukan berarti dia sudah tak peduli lagi padamu, dia hanya ingin kamu mengabarinya dahulu.
Dia yang membalas pesan singkatmu tanpa emoticon bukan berarti dia tak perhatian lagi padamu, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya saat dia jenuh.
Dia yang belum mengatakan rasa sayangnya padamu, bukan berarti dia tak menyayangimu, dia hanya memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu.
Dia yang selalu dekat dengan teman perempuannya, bukan berarti dia menyukai salah satu diantara teman perempuannya, dia hanya mencuri perhatian padamu agar kamu terpancing dan menampakkan kecemburuanmu di depannya.
Dia yang selalu menyibukkan diri mengisi waktu dengan teman-temannya bukan berarti dia mengabaikanmu, namun sebenarnya ia butuh waktu untuk menghilangkan kejenuhan dengan berkumpul bersama teman-temannya.
Dia yang cenderung mengalihkan pandangan saat kau menatapnya bukan berarti ia tak ingin bertatap muka denganmu, sebenarnya ia sangat ingin menatap matamu lebih dalam. namun ia hanya tak ingin teman-temannya tau dan akan mengejeknya. Sesungguhnya tanpa sepengetahuanmu, ia selalu mengawasi dan memperhatikanmu dari kejauhan.
Dia yang menolak saat kau mengajak dan mengantarmu pulang, bukan berarti ia tak ingin menemanimu pulang, namun ia tak ingin kejadian yang tak diinginkan tertimpa padamu.
Sesungguhnya ia sangat peduli padamu, namun kau tak menyadarinya, dan terkadang kau tak dapat menahan egomu sehingga kalimat "Dia sudah tak peduli lagi padaku." terlontar dari bibir manismu.
-Deena-
Minggu, 20 April 2014
Rahasia
-Deena-
Aku suka menulis. Karena dengan
menulis aku dapat mencurahkan segala perasaanku. Mereka bilang aku pendiam, aku
misterius. Ya, memang benar. Aku lebih suka mencurahkan segala perasaan dan
masalah kehidupanku lewat secarik kertas dan sebuah pena. Aku lebih suka
bermain dengan mereka ketimbang pergi ataupun hunting bersama
teman-teman.
Aku lebih suka memendam masalahku
ketimbang menceritakan kepada teman-teman, karena alasanku simple. Aku tidak
ingin mereka dibuat pusing dengan masalah yang aku punya. Karena aku berfikir,
mereka juga pasti mempunyai masalah. Tegakah aku jika menambah masalah mereka
dengan masalahku? Nah.
Selain itu, aku juga seakan
menyimpan rahasia. Aku seperti mendapat amanah dari mereka. Sesekali mereka
menceritakan masalah mereka kepadaku. Tak hanya satu orang. Dua orang, tiga
orang, empat orang, bahkan lima orang sekalipun. Mereka seakan mempercayai ku
untuk menyimpan rahasia mereka. Namun sejujurnya aku merasa terbebani dengan
semuanya. Aku mendadak seperti orang gila. Aku pusing menemukan solusi dari
permasalahan mereka.
Karena apa?
Karena setiap orang pertama
bercerita, selalu ada orang kedua, ketiga dan keempat dalam cerita tersebut,
ketika orang kedua bercerita selalu ada orang pertama, orang ketiga, keempat
dalam cerita tersebut, ketika orang ketiga bercerita selalu ada orang pertama,
kedua, dan keempat dan yang lain dalam cerita tersebut. Begitupun sebaliknya.
Seperti bermain ular tangga namun tak mencapai garis finish.
Ah otakku rasanya seperti dicuci.
Aku bingung dari mereka mana yang dapat aku percayai. Kadang saat mereka selalu
menyerempet masuk ke dalam otakku, rasanya otakku konslet;gila !
Sabtu, 19 April 2014
Rapuh
Belum
sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum
sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah
ku kehilangan 'tuk kesekian kali
Tuhan
kumohon jangan lakukan itu
Sebab
ku sayang dia
Sebab
ku kasihi dia
Sebab
ku tak relaTak s'lalu bersama
Ku
rapuh tanpa dia
Seperti
kehilangan harap
Jikalau memang harus ku alami duka
Jikalau memang harus ku alami duka
Kuatkan
hati ini menerimanya
Kamis, 17 April 2014
Terimakasih semuanya :')
-Deena-
Aku berusaha mencarimu dalam kegelapan. Layaknya berada
dalam sebuah gua yang gelap dan tak tau jalan keluar. Persis. Aku tak tau
bagaimana dan dimana jalan keluarku dari alur cerita cinta ini. Aku yang
terjebak dalam status ketidakjelasan. Dalam hal ini, aku yang mencintaimu
begitupun kau. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini kau lebih sering
mengabaikanku. Mungkin ada orang ketiga yang masuk dalam hidup kita. Bukan.
Bukan kita. Hidupmu. Bukan hidup kita.
Kau yang dulu berusaha merenggut hatiku, tapi mengapa
sekarang? seka...ra..~
Ah kau tau rasanya bukan? Bagaimana rasanya ingin menangis
namun berusaha menahannya. Menyesakkan dada. Terutama batin. Ya, aku mencoba
untuk mengikhlaskan semuanya. Mengikhlaskan kenangan yang kita rajut dahulu.
Iya, dahulu. Bukan sekarang.
Terimakasih telah hadir dalam kehidupanku. Terimakasih kau
selalu hadirkan seutas senyummu setiap harinya. Terimakasih atas perhatian
kecilmu. Terimakasih telah menyempatkan waktumu untuk selalu mengabarkanku.
Terimakasih semuanya. Walaupun sekarang kau mempersembahkan semuanya untuk
sesosok perempuanmu yang baru :')
Hujan :')
-Deena-
Hujan, sampaikan salam rindu ku untuknya. Aku rindu saat
dia selalu menyelipkan perhatian kecil setiap malam nya yang mengintip handphoneku.
Hujan, sampaikan padanya aku masih menyayanginya hingga
saat ini.
Hujan, berikan pertanda padanya bahwa aku masih mengingat
kenangan indah bersamanya dan mengharapkan semua itu terulang kembali.
Hujan, jika kau tak dapat mengirimkan pertanda tolong
sampaikan salam pada Sang Maha Kuasa mintalah tolong padaNya agar dia yang
disana selalu berbahagia walaupun alur cerita telah memutuskan kami berdua.
Terimakasih hujan :')
Selasa, 15 April 2014
Mustahil
Hai! Selamat siang kamu! ;)))
Kau lihat gambar di bawah ini? iya, dua gambar bentuk hati buatanku pagi tadi.
Kau lihat gambar di bawah ini? iya, dua gambar bentuk hati buatanku pagi tadi.
Mungkin kau akan bilang "ah gampang buatnya" atau
kau akan berkata "ah jelek" atau saat aku memberikannya padamu kau
dengan tegas mengelak "ah apaan ini! Sampah! Buang aja!"
Ah, aku percaya kau tidak sejahat itu. Aku percaya saat aku
memberikannya padamu kau pasti akan berkata “bagus sekali!” padahal di dalam
hatimu “biasa-biasa saja.”
Ah sudahlah—
“Oh iya, bagaimana kabarmu disana? Baik baik sajakah?
Sudah tak sabar melihat wajahmu kembali. Kertas-kertas yang
ku kirimkan apakah masih ada di dalam tasmu? Aku sangat senang jika kau
menjawab “Iya”
Ya walaupun setiap waktu kau tak mungkin membukanya bukan? Tapi
itu sudah cukup menenangkan hatiku.”
Kau tau mengapa aku membuat dua
gambar hati ini? Kau tau mengapa dua pasang hati ini berbeda warna? Ya. Akan ku
jelaskan. Kau lihat bukan gambar bentuk hati yang berwarna biru? Iya, yang biru
itu untukmu. Aku memilih warna biru karena seolah-olah aku sedang melukiskan
sifatmu disana. Kamu yang dingin, cuek, dan misterius. Dan gambar bentuk hati
yang berwarna merah muda itu untukku. Kau tau mengapa? Itu menggambarkan hatiku
saat ini, berbunga-bunga.
Ah maaf aku lagi-lagi aku menyampah, lagian apa fungsinya
aku menerangkan sedemikian detail gambar hati itu? Kau juga tak akan mengintip
blogku. Mustahil.
Senin, 14 April 2014
Aku suka
-Deena-
Aku tak terlalu cerdas. Berbeda
dengan yang lain. Aku menyukai khayalan. Aku suka kebebasan. Aku tidak suka
dikekang. Aku suka kertas. Dimana aku dapat menggoreskan penaku kepada mereka.
Terlalu lebih, jika mereka bilang aku cantik. Karena menurut filosofiku, cantik
itu bukan dalam penampilan fisik namun lebih tersorot kecantikan dalam hati.
Karena kecantikan dalam hati akan terpancar dalam penampilan fisik.
Aku suka pantai. Tempat dimana aku
dapat menjerit sekeras-kerasnya, melontarkan segala perasaanku disana, entah
itu perasaan sedih maupun bahagia. Disana aku dapat menikmati indahnya ciptaan
Yang Maha Kuasa, memandang terbit dan tenggelamnya sang surya, mengintip batu
karang yang terbelah akibat pecahan ombak besar.
Aku suka lebah. Banyak orang yang tak menyukainya karena sengatannya. Namun bagiku tidak, seekor lebah bagaikan
seseorang yang selalu setia terhadap pasangannya. Ia selalu menyempatkan
waktunya untuk menghampiri setangkai bunga yang bisa disebut pasangannya. Ia setia
pada satu bunga dan tak melirik bunga-bunga lain. Meskipun bunga-bunga lain
lebih indah dan cantik daripada bunga yang ia miliki sekarang.
Aku suka itu;
Aku muak berdrama!
-Deena-
Dentang jam yang terhitung 12 kali menandakan ini pukul 12 malam. Seperti biasanya aku tak bisa tidur. Aku bagaikan seseorang yang terkena penyakit insomnia. Aku tak tau akan hal itu. Mengapa disaat orang tertidur lelap, aku selalu asyik dengan handphoneku yang terus melekat di kedua tanganku? Ah entahlah~
Mungkin aku telah terkena syndrom. Syndrom mencintaimu lebih dalam. Hingga akhirnya terus memikirkanmu hingga tengah malam seperti ini. Kau yang telah tertidur lelap selalu ku iringi dengan iringan doa yang dapat menjagamu hingga kamu terbangun kembali esok.
Suara keypad handphone yang masih terdengar menandakan aku sedang menulis tentangmu, tentang cerita kita. Dimana aku bisa menulis bebas. mengubah jalan cerita, mendalami alur cerita, berdrama, dengan akhir cerita happy ending.
Ah aku terlalu lelah sering berdrama. Di depanmu aku terlihat jutek dan cuek. Sungguh, aku tak menginginkannya. Namun, lagi-lagi keadaan yang memaksaku untuk melakukan semuanya. Keadaan yang selalu menjebakku.
Aku layaknya seperti seorang pengemis yang meminta-minta koin receh di dalam pasar. Berada dalam keramaian, namun sunyi. Sepi. Sendiri. Entah.
Aku muak berdrama! Dimana kita harus saling menyembunyikan perasaan. Hingga akhirnya, kita berdua larut dalam adegan drama. Terlalu nyaman berdrama. Sampai lupa dengan status ketidakjelasan kita dua tahun silam.
Kita memang berbeda
-Deena-
Kita memang berbeda. Kita seperti terjebak dalam sistem kasta. Status sosial. Yang dapat dilukiskan kau sebagai kaum Brahmana dan aku sebagai kaum Sudra. Perbedaan kasta yang mencolok membuat kisah cinta kita seperti terhenti dari sini.
Kita memang berbeda. Kita seperti layaknya dua orang insan yang saling mencintai, menyayangi dan mengasihi namun agama kita berbeda. Kau seorang kristen sedangkan aku seorang muslim. Perbedaan agama yang mencolok membuat kisah cinta kita seperti terhenti dari sini.
Kita memang berbeda. Kau terlihat sempurna dengan segala kelebihanmu. Dan aku terlihat cacat dengan segala kekuranganku. Perbedaan fisik yang mencolok membuat kisah cinta kita seperti terhenti dari sini.
Kita memang berbeda. Kau egois dan keras kepala. Aku yang selalu sabar dan tabah menghadapimu. Perbedaan sifat yang mencolok membuat kisah cinta kita seperti terhenti dari sini.
Kita memang berbeda. Namun, aku tak ingin hanya karena perbedaan ini membuat kita saling merelakan dan melepaskan satu sama lain. Aku ingin perbedaan ini membuat kita menjadi saling melengkapi.
Saat aku dan kau berusaha mencoba, berusaha menerima perbedaan yang ada. Ada hal lain yang tak menerima. Ya benar. Orang-orang di sekitar kita.
Hingga akhirnya kita tak dapat memilih. Dan mencoba untuk saling mengikhlaskan. Semuanya bukan kemauanku! Ataupun kemauanmu! Tapi karena orang-orang di sekitar kita yang tak memahami kebersamaan kita.
Takut kehilanganmu
-Deena-
Diperhatikan. siapakah orang yang tak mau diperhatikan? pasti semua orang ingin diperhatikan. Seperti layaknya aku yang selalu ingin mendapat perhatian darimu. Entah kau menanyakan tentang kegiatanku sehari-hari atau menanyakanku telah makan siang atau belum. Ya, setitik perhatianmu yang selalu membuat pipiku seketika terlihat merah merona dengan senyuman tulus di bibir. Tak dapat dipungkiri bahwa aku juga akan memperhatikanmu lebih. Lebih dari segala perhatian yang kau berikan kepadaku. Tulus.
Namun, terkadang rasa sensitifku muncul sehingga membuat kau merasa jenuh, aku yang ingin selalu dimanja, namun kau mengabaikanku saat kau sibuk. Bukan mengabaikan. Mungkin aku yang terlalu sensitif. Terlalu peka.
Aku selalu berusaha mengertimu. Meminta maaf saat kau merasa tengah bosan denganku. Memohon-mohon agar kau dapat memaafkan kesalahanku. Kesalahan yang hanya diperbuat oleh masalah kecil. Namun kau biasa membesar-besarkannya. Heran. Dewasa? Atau aku yang harus terus mencoba bersabar dengan sikapmu yang seperti itu? Salah. Salah. Dan salah. Hingga pada akhirnya aku akan lelah dengan semuanya. Karena aku bagaikan pengemis cinta yang selalu mengemis cintamu. Tidak! Aku tak seperi itu! Aku seperti ini semuanya gara-gara kau! Rasa sayang yang terlalu dalam mengalahkan semuanya. Aku seperti ini karena aku takut kehilanganmu :')
Apa kabar kalian kertas-kertasku?
-Deena-
Dulu
kertas-kertas ku selalu berterbangan dan pada akhirnya sampai kepadamu. Aku
selalu menyempatkan waktu untuk membuat dan merancang kertas-kertasku yang akan
ku kirimkan padamu. Dan menyelipkannya. Entah itu di tas milikmu, atau
kuselipkan di buku-buku tulismu. Kertas-kertas yang kukirimkan padamu selalu
memuat isi curahan hatiku setiap saat. Curahan hatiku yang selalu aku tulis
dalam sebuah kertas dan selalu aku rancang agar berbentuk cantik;entah aku
bentuk perahu kertas, kapal terbang maupun burung kertas.
Setiap
sang fajar telah muak untuk menyorotkan sinarnya, disaat itu lah saat yang
tepat untuk aku goreskan penaku ke kertas-kertas itu. Ku hampiri mereka lalu
penaku dengan lincahnya menari-nari diatasnya. Mereka dengan bebas menari.
Menuliskan beberapa kalimat yang menggambarkan perasaanku. Kalimat yang
sederhana; namun cukup mencerminkan bagaimana diriku.
Berharap
kau akan membalas perasaan yang aku tuangkan dalam kertas-kertas itu. Namun,
aku terlalu berharap lebih. Bagaimana kau mencoba membalas perasaanku dengan
membaca kertas-kertas itu? Mengerti nama pengirim kertas-kertas itu pun kau tak
tahu bukan? Lihat aku! Aku disini. Aku yang selalu menyempatkan waktu untuk
menulis dan mengirimkan kertas-kertas itu kepadamu. Aku pengagum rahasiamu selama
dua tahun ini. Dua tahun aku bertahan. Dan tetap tergila-gila olehmu.
Bagaimana
kertas-kertasku? Apakah sampai kepadamu? Sudahkah kau sentuh? Sudahkah kau
baca? Ataukah ada orang lain yang mencoba usil untuk mengambil kertas-kertas
itu sebelum kau sentuh dan kau baca. Jika kau telah menyentuh dan membacanya?
Bagaimana responmu? Apakah kau menyimpan kertas-kertas buatanku? Sepertinya
tidak! Hatiku terus mengatakan tidak! Ah, dua tahun aku menjadi pengagum
rahasiamu, lelah. Tak mendapat respon apapun. Dan sampai sekarang pertanyaanku
yang belum terjawab dan terus membayangiku setiap malam adalah sudah berapa
banyakkah kertas-kertas yang ku kirim kepadamu dalam waktu dua tahun ini? Entah.
Cintaku Batu Karang itu
-Deena-
Cinta.
Apa itu cinta? Cinta adalah suatu
anugerah yang Tuhan berikan kepada dua orang insan untuk saling mengerti,
menjaga dan tentunya saling menyayangi satu sama lain. Namun, jika ada dua
orang insan yang terikat dalam suatu hubungan tetapi hanya satu insan saja yang
berjuang, satu insan saja yang bertahan, satu insan saja yang masih mengerti,
menjaga, dan menyayangi. Apakah masih pantas disebut dengan cinta? Entah.
Semuanya terasa tak begitu jelas. Ketika kita terikat dalam suatu hubungan
namun diabaikan. Serupa sepertiku.
Awalnya
aku bagaikan bunga mawar yang terus dihinggapi lebah yang setia menemaniku
setiap saat. Dan tak rela jika dihinggapi lebah-lebah lain. Namun sekarang? Aku
serupa dan persis seperti kapas-kapas yang
berterbangan;berhamburan;terbang;entah kemana perginya.
Kau
pernah melihat bagaimana derasnya ombak yang dapat memecah batu-batuan karang
yang ada di tepi pantai? Ya. Bayangkan saja! Aku seperti batu-batu karang itu! Terhempas
oleh ombak yang tak tentu kapan datangnya. Kadang saat sang fajar terbit,
terkadang senja, atau terkadang saat sang fajar tak lagi mengintip bumi. Terhempas
berkali-kali dan akhirnya pecah. Retak. Sama seperti hatiku. Yang kau sakiti
berulang-ulang. Namun, aku berusaha tegar seperti sesosok batu-batu karang itu.
Nyatanya? Retak juga!
Minggu, 13 April 2014
Judulnya kau :")
-Deena-
Menatapmu dari kejauhan. Ya, itu yang kulakukan
setiap harinya. Hasratku selalu muncul saat berdekatan denganmu, inginku
bercanda, tertawa denganmu, namun semuanya hanya anganku. Ya, hanya angan-angan
karena terlalu banyak yang ingin tau kejelasan hubungan kita. Saat mereka
bertanya “kamu jadian sama dia?” Aku hanya tertunduk. Ya, aku tak mengerti
jawaban apa yang harus aku lontarkan dari bibirku, karena faktanya status kita
memang masih menggantung. Disebut hanya sekedar teman itu terlalu miris karena
kau selalu memanggilku dengan panggilan khas “Dek” ataupun “Sayang”. Disebut
pacar juga akan sangat berlebihan, karena kita memang belum meresmikan status “pacaran”.
Ya, memang sedikit menyakitkan. Namu, aku
mencoba menerima semuanya. Menerima saat kau berkata “maaf dek, mas belum siap
pacaran lagi.” Ada sedikit kekecewaan yang mendalam, karena kau memang belum
bisa melupakan sepenuhnya masa lalumu. Iya, masa lalu yang kau lalui bersama
mantanmu. Ya aku mencoa memahami semuanya, butu proses, butuh waktu agar kita
dapat bersatu. Awalnya aku selalu berjanji agar aku tak memilikimu dan
mengharapkanmu lebih, namun nyatanya tidak! Aku terlalu munafikuntuk menepati
janjiku, dan memasrahkan hatiku untuk terus menyayangimu lebih dalam. Sungguh,
aku tak sadar! Setiap mata kita bertemu, selalu ada harapan baru, harapan yang
aku simpan, tanpa kau perlu tau, saat kau berkata “maaf ya dek” aku selalu
menanggapinya dengan “gapapa ko mas, tenag aja.”
Sadarkah kau? Saat aku menanggapinya dengan
mengatakan “gapapa” itu artinya aku ingin diperhatikan lebih olehmu. Ya sekalipun
kau tau itu, kau mengabaikannya. Ya, aku sadari semuanya. Kau berbeda dari apa
yang aku inginkan, kau humoris, kau popular, yak au selalu didekati teman
perempuanmu, fansmu mungkin yang tergila-gila dengan penampilanmu yang memukau
mereka, atau mungkin karena kau meruapakan salah satu anggota basket di
sekolah. Aih aku tak mempedulika itu-
Sungguh aku tak menginginkan itu sebelumnya. Namun
hati memang tak bisa berbohong saat kau selalu menyempatkan waktumu untuk
mengirim pesan singkat, yang awalnya hanya basa-basi menanyakan tugas sekolah. Namun
seiring waktu berjalan, setitik perhatianmu selalu mengintip handphoneku saat
malam tiba, aku terpaku. Tersenyum. Saat menerima pesan singkat darimu. Aku tak
bisa membohongi perasaanku. Jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta pada seseorang
yang tak kunginkan sebelumnya, bukan tipeku. Perasaan ini sungguh tak karuan,
berbunga-bunga.
Dari sinilah aku mulai sering bergelut dengan
dunia khayalan. Berkhayal tentang masa depan. Aku. Kau. Kita. Jodoh. Ah, aku
memang terlalu berharap akan hal itu. Namun, setiap aku berusaha mengelaknya,
kau selalu berusaha meyakinkan. Meyakinkan bahwa pada suatu saat aku dank au akan
bersatu. Terenyuh. Mungkinkah dia yang terbaik untukku? Tidak. Aku tidak boleh
masuk dan terjebak ke dalam jurang hanya dengan rayuan belaka. Percaya. Ya,
namun tak berlebihan agar aku tak terlalu sakit jika pada akhirnya Tuhan tak
menakdirkan kita untuk bersatu :"))))
-no name-
Menatapmu dari kejauhan :')
-Deena-
Apa rasanya jika
kau menjadi aku? Mungkin kau tak akan sanggup rasanya tepat di posisiku saat
ini. Sakit. Kau tau? Bagaimana rasanya menahan tangis namun mencoba untuk tetap
tersenyum? Sesak. Mataku selalu mencoba membendung tetesan air mata yang akan
jatuh saat di depan mataku kau bersama dengan yang lain. Namun, air mata ini
sungguh tak bisa kutahan, bagaikan awan hitam yang tak kuat menahan beratnya
air hujan sehingga ia terpaksa menumpahkannya;hujan. Mungkin itu sedikit
gambaran perasaanku saat ini.
Aku wanita
sederhana. Tertutup, tak terlalu cantik, dan tak terlalu pintar. Iya,
sederhana. Salah satunya sederhana dalam mencintaimu. Menatapmu dari kejauhan
itulah satu-satunya cara bagaimana aku mencintaimu dalam kesederhanaan. Kita
memang terpisah oleh jarak. Namun, aku merasa begitu dekat denganmu saat tawamu
menghiasi kedua bola mataku. Ya, meskipun aku menegrti dan paham bahwa tawa
yang menghinggap di bibirmu bukan karena kehadiranku. Tapi kehadiran sosok lain
disampingmu :’)
Aku berusaha
tersenyum dalam tangisku. Tersenyum saat kau menyapaku “hai, PR kamu udah
dikerjain belum?” seketika hatiku seperti kapal yang terombang-ambing akibat
gelombang ombak yang besar. Gembira. Aku tak akan melupakan kejadian itu, saat
memasuki kelas.
Aku selalu
mengra bahwa sapaanmu merupakan suatu perhatian lebih yang hanya kau curahkan
kepadaku. Ternyata tidak! Kau hanya menganggapnya sebagai angin lalu seperti
dedaunan yang dihempaskan angina hingga akhirnya berserakan; terbang ataupun;hilang.
Apakah mungkin ini hanya perasaanku yang menganggapmu lebih? Entah. Sekarang
aku hanya bisa mencintaimu dalam diam tanpa harus mengungkapkan. Dan tetap
terus menatapmu dari kejauhan :’)
Pandangan Pertama
– Deena -
Sakit.
Ya, yang aku rasakan saat ini. Saat menyimpan perasaan kepada seseorang namun
diabaikan. Bukan. Buka diabaikan. Lebih tepatnya ia tak tau aku menyimpan
perasaan kepadanya selama ini. Saat melihatmu untuk pertama kalinya aku
terpaku. Kagum. Menatap matanya untuk yang pertama kali saat pendaftaran
memasuki sekolah menengah atas. Tepatnya bulan Juli tanggal 17. Ya, aku masih
ingat tanggal itu, saat dimana mata kita bertemu dan bertatapan. Senyuman manis
di bibirnya yang saat itu menghiasi kedua bola mataku. Mataku berkaca-kaca.
Tatapan kosong. Tak ada satupun kata yang terlontar dari bibirku. Diam. Diam
dan menatapnya.
Rambutnya
tipis yang terlihat tak sepadan dengan alisnya yang tebal. Hidung yang mancung
dan wajahnya yang tirus membutakan mataku yang saat itu terpaku menatapnya. Ya.
Untuk yang pertama kalinya aku jatuh cinta. Jatuh hati pada seseorang yang
belum pernah ku kenal sebelumnya.
Bel
berbunyi, menandakan tes wawancara kali ini telah selesai. Tiba-tiba tarikan
tangan menyambutku.
“Ayo
keluar, udah selesai nih tesnya.” Kata Dina.
“Iiiya
eh.” kagetku.
Aku
segera menyambut tangan Dina dan terpaksa keluar dari ruangan tes wawancara.
Kedua kakiku dengan terpaksa melangkah mengikuti arah kaki Dina. Sepertinya ada
yang aneh. Ya, mataku. Mataku seakan tak rela melepaskan pandangan ke sosok
laki-laki yang sejak tadi seakan mengikat kedua bola mataku untuk terus
menatapnya.
Namun,
mataku tak bisa membendung langkahan kaki yang terus berjalan. Dengan terpaksa,
aku meninggalkan ruangan tes wawancara dan merelakan melepaskan pandangannya ke
sosok itu. Aku tersenyum. Dalam hitungan detik aku memejamkan mataku
seolah-olah ingin mencoba untuk menyimpan memori di otakku. Memori yang tak
akan pernah aku lupakan. Tanggal 17 bulan Juli. Pandangan pertama yang
membuatku jatuh hati pada sesosok laki-laki untuk yang pertama kalinya. Sesosok laki-laki yang dingin;misterius.
SIAPA AKU?
Introduce My Self
Hai, kenalin aku Noor Dina
Camelia. biasa dipanggil Dina kalo di sekolah ada juga sih yang panggil Camel,
termasuk mereka yang suka iri sama namaku, ya paham lah kan namaku ga pasaran
kaya kalian hehe aku lahir tanggal 18 bulan september tahun 1997, alhamdulillah
masih keliatan muda dan ga tua tua amat deh ya hihi..aku sekarang duduk di
kelas 2 SMA.
Ya, kelas 2 SMA. apa yang ada
dibenak kalian tentang masa-masa SMA? pasti seru kan? masa-masa SMA itu
masa-masa dimana kita mulai berubah status darialay menjadi dewasa, berubah
status hubungan juga, dari jomblo menjadi taken, eh sorry yang jomblo maap jangan
kesinggung :p
Tapi ga semua anak seumuran
SMA tepatnya langsung menuju dewasa lho, ada juga sih yang masih alay-alay
gitu, ya mereka mungkin memegang prinsip SMA = Status Masih Alay hehe, ya
dimaklumin ajalah namanya juga menuju akhir batas labil.
Memang ya menuju kedewasaan
itu ga gampang sobat, kita biasanya melewati banyak rintangan banyak
permasalahan banyak hambatan banyak jalan naik turun ada lobang-lobang juga
hehe iya bener banyak permasalahan entah itu permasalahan tentang galau,
tentang cinta, persahabatan, tentang tugas-tugas ah pokoknya ga bisa dijelasin
satu-satu deh. walaupun ga bisa jelasin satu-satu tapi dina bisa lho jelasinnya
secara detail tentang masa-masa SMA.
Makanya, kalo mau tau cerita
kelanjutan dan lebih detailnya dina tentang masa-masa SMA tunggu postingan
berikutnya ya sobat, dijamin deh postingan selanjutnya bakalan lebih seru, ga
garing, dan pas banget sama kehidupan kalian saat masa-masa SMA. di dalemnya
juga ada kisahnya dina lho dari mulai dina menuju kedewasaan, dina yang mulai
galau karena punya hubungan ga jelas sama temen cowonya, dina yang galau
pelajaran dan tugas-tugas, dina yang dapet nile jelek, dina yang dikasih
harapan palsu, dina yang ketemu sama trio kwekwek bebek yang sok cantik-cantik
dan akhirnya mulai mengenal kata "somplak", ah pokoknya semua
ceritanya dina bakalan terdampar disitu deh. oke sob, tunggu dina yaa.... I
come back again for us ^_^ mueheehehe :3
Langganan:
Postingan (Atom)
