-Deena-
Apa rasanya jika
kau menjadi aku? Mungkin kau tak akan sanggup rasanya tepat di posisiku saat
ini. Sakit. Kau tau? Bagaimana rasanya menahan tangis namun mencoba untuk tetap
tersenyum? Sesak. Mataku selalu mencoba membendung tetesan air mata yang akan
jatuh saat di depan mataku kau bersama dengan yang lain. Namun, air mata ini
sungguh tak bisa kutahan, bagaikan awan hitam yang tak kuat menahan beratnya
air hujan sehingga ia terpaksa menumpahkannya;hujan. Mungkin itu sedikit
gambaran perasaanku saat ini.
Aku wanita
sederhana. Tertutup, tak terlalu cantik, dan tak terlalu pintar. Iya,
sederhana. Salah satunya sederhana dalam mencintaimu. Menatapmu dari kejauhan
itulah satu-satunya cara bagaimana aku mencintaimu dalam kesederhanaan. Kita
memang terpisah oleh jarak. Namun, aku merasa begitu dekat denganmu saat tawamu
menghiasi kedua bola mataku. Ya, meskipun aku menegrti dan paham bahwa tawa
yang menghinggap di bibirmu bukan karena kehadiranku. Tapi kehadiran sosok lain
disampingmu :’)
Aku berusaha
tersenyum dalam tangisku. Tersenyum saat kau menyapaku “hai, PR kamu udah
dikerjain belum?” seketika hatiku seperti kapal yang terombang-ambing akibat
gelombang ombak yang besar. Gembira. Aku tak akan melupakan kejadian itu, saat
memasuki kelas.
Aku selalu
mengra bahwa sapaanmu merupakan suatu perhatian lebih yang hanya kau curahkan
kepadaku. Ternyata tidak! Kau hanya menganggapnya sebagai angin lalu seperti
dedaunan yang dihempaskan angina hingga akhirnya berserakan; terbang ataupun;hilang.
Apakah mungkin ini hanya perasaanku yang menganggapmu lebih? Entah. Sekarang
aku hanya bisa mencintaimu dalam diam tanpa harus mengungkapkan. Dan tetap
terus menatapmu dari kejauhan :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar