Minggu, 13 April 2014

Menatapmu dari kejauhan :')


-Deena-


Apa rasanya jika kau menjadi aku? Mungkin kau tak akan sanggup rasanya tepat di posisiku saat ini. Sakit. Kau tau? Bagaimana rasanya menahan tangis namun mencoba untuk tetap tersenyum? Sesak. Mataku selalu mencoba membendung tetesan air mata yang akan jatuh saat di depan mataku kau bersama dengan yang lain. Namun, air mata ini sungguh tak bisa kutahan, bagaikan awan hitam yang tak kuat menahan beratnya air hujan sehingga ia terpaksa menumpahkannya;hujan. Mungkin itu sedikit gambaran perasaanku saat ini.
Aku wanita sederhana. Tertutup, tak terlalu cantik, dan tak terlalu pintar. Iya, sederhana. Salah satunya sederhana dalam mencintaimu. Menatapmu dari kejauhan itulah satu-satunya cara bagaimana aku mencintaimu dalam kesederhanaan. Kita memang terpisah oleh jarak. Namun, aku merasa begitu dekat denganmu saat tawamu menghiasi kedua bola mataku. Ya, meskipun aku menegrti dan paham bahwa tawa yang menghinggap di bibirmu bukan karena kehadiranku. Tapi kehadiran sosok lain disampingmu :’)
Aku berusaha tersenyum dalam tangisku. Tersenyum saat kau menyapaku “hai, PR kamu udah dikerjain belum?” seketika hatiku seperti kapal yang terombang-ambing akibat gelombang ombak yang besar. Gembira. Aku tak akan melupakan kejadian itu, saat memasuki kelas.
Aku selalu mengra bahwa sapaanmu merupakan suatu perhatian lebih yang hanya kau curahkan kepadaku. Ternyata tidak! Kau hanya menganggapnya sebagai angin lalu seperti dedaunan yang dihempaskan angina hingga akhirnya berserakan; terbang ataupun;hilang. Apakah mungkin ini hanya perasaanku yang menganggapmu lebih? Entah. Sekarang aku hanya bisa mencintaimu dalam diam tanpa harus mengungkapkan. Dan tetap terus menatapmu dari kejauhan :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar