-Deena-
Menatapmu dari kejauhan. Ya, itu yang kulakukan
setiap harinya. Hasratku selalu muncul saat berdekatan denganmu, inginku
bercanda, tertawa denganmu, namun semuanya hanya anganku. Ya, hanya angan-angan
karena terlalu banyak yang ingin tau kejelasan hubungan kita. Saat mereka
bertanya “kamu jadian sama dia?” Aku hanya tertunduk. Ya, aku tak mengerti
jawaban apa yang harus aku lontarkan dari bibirku, karena faktanya status kita
memang masih menggantung. Disebut hanya sekedar teman itu terlalu miris karena
kau selalu memanggilku dengan panggilan khas “Dek” ataupun “Sayang”. Disebut
pacar juga akan sangat berlebihan, karena kita memang belum meresmikan status “pacaran”.
Ya, memang sedikit menyakitkan. Namu, aku
mencoba menerima semuanya. Menerima saat kau berkata “maaf dek, mas belum siap
pacaran lagi.” Ada sedikit kekecewaan yang mendalam, karena kau memang belum
bisa melupakan sepenuhnya masa lalumu. Iya, masa lalu yang kau lalui bersama
mantanmu. Ya aku mencoa memahami semuanya, butu proses, butuh waktu agar kita
dapat bersatu. Awalnya aku selalu berjanji agar aku tak memilikimu dan
mengharapkanmu lebih, namun nyatanya tidak! Aku terlalu munafikuntuk menepati
janjiku, dan memasrahkan hatiku untuk terus menyayangimu lebih dalam. Sungguh,
aku tak sadar! Setiap mata kita bertemu, selalu ada harapan baru, harapan yang
aku simpan, tanpa kau perlu tau, saat kau berkata “maaf ya dek” aku selalu
menanggapinya dengan “gapapa ko mas, tenag aja.”
Sadarkah kau? Saat aku menanggapinya dengan
mengatakan “gapapa” itu artinya aku ingin diperhatikan lebih olehmu. Ya sekalipun
kau tau itu, kau mengabaikannya. Ya, aku sadari semuanya. Kau berbeda dari apa
yang aku inginkan, kau humoris, kau popular, yak au selalu didekati teman
perempuanmu, fansmu mungkin yang tergila-gila dengan penampilanmu yang memukau
mereka, atau mungkin karena kau meruapakan salah satu anggota basket di
sekolah. Aih aku tak mempedulika itu-
Sungguh aku tak menginginkan itu sebelumnya. Namun
hati memang tak bisa berbohong saat kau selalu menyempatkan waktumu untuk
mengirim pesan singkat, yang awalnya hanya basa-basi menanyakan tugas sekolah. Namun
seiring waktu berjalan, setitik perhatianmu selalu mengintip handphoneku saat
malam tiba, aku terpaku. Tersenyum. Saat menerima pesan singkat darimu. Aku tak
bisa membohongi perasaanku. Jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta pada seseorang
yang tak kunginkan sebelumnya, bukan tipeku. Perasaan ini sungguh tak karuan,
berbunga-bunga.
Dari sinilah aku mulai sering bergelut dengan
dunia khayalan. Berkhayal tentang masa depan. Aku. Kau. Kita. Jodoh. Ah, aku
memang terlalu berharap akan hal itu. Namun, setiap aku berusaha mengelaknya,
kau selalu berusaha meyakinkan. Meyakinkan bahwa pada suatu saat aku dank au akan
bersatu. Terenyuh. Mungkinkah dia yang terbaik untukku? Tidak. Aku tidak boleh
masuk dan terjebak ke dalam jurang hanya dengan rayuan belaka. Percaya. Ya,
namun tak berlebihan agar aku tak terlalu sakit jika pada akhirnya Tuhan tak
menakdirkan kita untuk bersatu :"))))
-no name-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar