-Deena-
Dulu
kertas-kertas ku selalu berterbangan dan pada akhirnya sampai kepadamu. Aku
selalu menyempatkan waktu untuk membuat dan merancang kertas-kertasku yang akan
ku kirimkan padamu. Dan menyelipkannya. Entah itu di tas milikmu, atau
kuselipkan di buku-buku tulismu. Kertas-kertas yang kukirimkan padamu selalu
memuat isi curahan hatiku setiap saat. Curahan hatiku yang selalu aku tulis
dalam sebuah kertas dan selalu aku rancang agar berbentuk cantik;entah aku
bentuk perahu kertas, kapal terbang maupun burung kertas.
Setiap
sang fajar telah muak untuk menyorotkan sinarnya, disaat itu lah saat yang
tepat untuk aku goreskan penaku ke kertas-kertas itu. Ku hampiri mereka lalu
penaku dengan lincahnya menari-nari diatasnya. Mereka dengan bebas menari.
Menuliskan beberapa kalimat yang menggambarkan perasaanku. Kalimat yang
sederhana; namun cukup mencerminkan bagaimana diriku.
Berharap
kau akan membalas perasaan yang aku tuangkan dalam kertas-kertas itu. Namun,
aku terlalu berharap lebih. Bagaimana kau mencoba membalas perasaanku dengan
membaca kertas-kertas itu? Mengerti nama pengirim kertas-kertas itu pun kau tak
tahu bukan? Lihat aku! Aku disini. Aku yang selalu menyempatkan waktu untuk
menulis dan mengirimkan kertas-kertas itu kepadamu. Aku pengagum rahasiamu selama
dua tahun ini. Dua tahun aku bertahan. Dan tetap tergila-gila olehmu.
Bagaimana
kertas-kertasku? Apakah sampai kepadamu? Sudahkah kau sentuh? Sudahkah kau
baca? Ataukah ada orang lain yang mencoba usil untuk mengambil kertas-kertas
itu sebelum kau sentuh dan kau baca. Jika kau telah menyentuh dan membacanya?
Bagaimana responmu? Apakah kau menyimpan kertas-kertas buatanku? Sepertinya
tidak! Hatiku terus mengatakan tidak! Ah, dua tahun aku menjadi pengagum
rahasiamu, lelah. Tak mendapat respon apapun. Dan sampai sekarang pertanyaanku
yang belum terjawab dan terus membayangiku setiap malam adalah sudah berapa
banyakkah kertas-kertas yang ku kirim kepadamu dalam waktu dua tahun ini? Entah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar