Sabtu, 08 Agustus 2015

Belajar dari Dirimu...

Aku hanyalah seorang gadis yang lemah, tapi aku menjadi sangat kuat saat mimpi-mimpiku menjadi penopangnya. Usiaku yang belum terlalu dewasa, 16 tahun. Terkadang membuat aku diremehkan oleh orang-orang sekitarku. Apalagi saat mereka menanyakan impian ku, dengan lepas mereka menertawakanku. Aku tidak pernah marah dengan perlakuan mereka yang seperti itu dihadapanku. Menurutku, itu hal yang sudah biasa aku alami.
Banyak hal yang aku impikan selama ini. Mulai menjadi seorang penulis, pelukis, penyanyi, sampai fotografer. Aku memimpikan semuanya. Satu per satu mimpi yang kusebutkan memang tidak lepas dari seni. Semua yang aku impikan memang selalu berkaitan dengan seni. Dilahirkan bukan dari keturunan jiwa-jiwa seni. Tapi tak tau mengapa saat aku mengenal seni, aku sangat tertarik dan memutuskan untuk mempelajarinya lebih dalam. Bakatku memang tak sedalam mereka-mereka yang dari kecil telah dilatih untuk mendalami jiwa seni dan dituntut untuk berprofesi yang berhubungan dengan kesenian.
Menulis, aku memulainya karena sangat banyak pengalaman yang aku dapatkan selama ini. Aku memulai menulis saat aku bertemu kau. Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan hingga aku dapat menorehkannya ke dalam sebuah catatan harianku diiringi tarian sebuah pena.
Menggambar, aku belajar banyak darimu. Memang betul aku tak pernah  memintamu untuk memberitahu atau bahkan mengajariku bagaimana teknik menggambar yang benar. Tapi seolah aku mempunyai teknik tersendiri saat melihat karyamu dipajang dan dipandang puluhan orang. Karyamu mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan karya-karya pelukis lain. Mungkin memang benar opini tentang orang-orang, “Jika kita mengerjakan sesuatu dengan cinta, maka akan mendapat hasil yang baik.” Mungkin kau mengerjakan karyamu dengan penuh perasaan dan cinta hingga seolah karyamu berhasil menaburkan benih-benih cinta kepada orang-orang yang melihatnya dan berhasil membuat mereka mencintai karyamu.
Aku sangat termotivasi, hingga setiap malam aku menggenggam sebuah pensil runcing, penghapus, dan sekadar pewarna untuk berlatih menjadi pelukis hebat sepertimu.
Menyanyi, semua orang pasti bisa bernyanyi. Namun, tidak semua orang tahu bagaimana teknik menyanyi yang benar. Kau sungguh benar-benar mengerti teknik menyanyi yang benar. Alunan nada yang kau dendangkan pasti membuat orang yang mendengarnya menjadi terpesona.
Sedikit demi sedikit pengetahuan musik yang aku tahu semakin bertambah, hingga muncul hasrat untuk dapat bernyanyi sepertimu. Aku ingin kau mengajariku bagaimana teknik menyanyi yang benar, namun aku selalu merendah diri karena jujur aku tak mempunyai basic suara yang senada sepertimu.
Begitupun dengan Olahraga, kegemaranku beolahraga semakin bertambah. Ya walaupun aku tahu bahwa olahraga yang kita sukai memang berbeda. Namun, aku sangat senang tak ada lagi miss communication saat kau mengajakku bercerita tentang olahraga kesukaanmu. Tak lama aku dapat mengerti dan paham apa itu pivot, passing, dribble, dan shoot.
Dari semua yang aku dapat dari mereka, aku semakin mengerti apa bakat yang mereka punyai. Setidaknya mereka pernah menjadi motivasiku untuk menemukan apa bakat yang aku punya. Namun, dari semua yang mereka ajarkan kepadaku. Ada satu yang berbeda diantara semuanya.
Tidak lama berselang, aku bertemu dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam berOrganisasi. Tak hanya memiliki pengalaman yang banyak, namun dia juga memiliki bakat berbicara di depan orang banyak. Mungkin bagi sebagian orang hanya mempunyai hobi yang umum seperti menulis, menyanyi, dan menggambar. Tetapi berbeda dengan dia, dia mempunyai hobi yang berbeda dengan kebanyakan orang yaitu berorganisasi.
Aku menganggapnya sebagai hal yang aneh. Hobi kok berorganisasi. Itu kalimat pertama yang terlintas difikiranku kepadanya. Menurutku, berorganisasi memang hal yang menyenangkan, tetapi aku melihat dari sisi yang lain. Berorganisasi itu sebuah hal yang rumit dan tentunya setiap harinya kita berhadapan dengan orang banyak. Belum lagi, saat mengadakan rapat tak sedikit yang berbeda pendapat, sulit untuk menjadikan pendapat itu menjadi satu dan menghasilkan kesimpulan yang dapat diterima oleh semua anggota rapat.
Kesan pertama kau berbicara di depanku, memang terlihat benih-benih pemimpin yang tertanam dalam dirimu. Aku juga dapat melihatnya dari bagaimana cara kamu berbicara, berjalan, dan bersosialisasi dengan orang lain. Cerdas, supel dan tegas. Tiga kata yang aku dapat simpulkan dari dirimu saat pertama kali kita saling bercengkrama.
Darimu, aku menjadi tahu lebih dalam apa itu organisasi yang sebenarnya. Aku menjadi tahu bagaimana cara bertoleransi, bekerjasama, dan bersatu dalam sebuah perbedaan. Mungkin aku tak seahli dirimu dalam berbicara di depan orang banyak, namun kau selalu mengatakan bahwa aku bisa melakukannya dengan modal optimisme. Aku sungguh sangat memercayai perkataanmu.
Banyak hal yang aku dapatkan dari dirimu, dirimu, dirimu dan dirimu yang lain. Aku jadi tahu lebih dalam bagaimana cara menulis, menggambar, menyanyi, berolahraga, dan satu lagi yaitu berorganisasi. Terima kasih atas semuanya, setidaknya kalian pernah menjadi secoret pelangi yang mewarnai setitik bagian dalam kehidupanku.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar